Lets Share Our InZpiration

15 March 2010

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA ISLAM DAN KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA.

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA ISLAM DAN KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA.

Berikut Izzy tuliskan materi pembelajaran masuknya Islam ke Indonesia, yang Izzy dapet dari Mata kuliah Sejarah Indonesia Madaya.

· Proses Masuknya Agama Islam Ke Indonesia.

Mengenai kedatangan Islam ke Indonesia, sampai sekarang terdapat beberapa pendapat. Sebagian besar berpendapat bahwa islam sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-7, sedangkan yang lainnya berpendapat Islam baru masuk pada abad ke-13 terutama di Samudra Pasai.

Mereka yang berpendapat bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 berpegang pada berita Cina dari Zaman Dinasti Tang. Berita Cina ini menceritakan tentang rencana serangan orang Ta Sih yang di tafsirkan sebagai orang-orang Arab. Hal ini diperkuat oleh berita Jepang (784M), yang menceritakan tentang perjalanan berita Kashin.

Sedangkan mereka yang berpendapat masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan pada dugaan pada keruntuhan Dinasti Abbasiyah oleh Hulagu (1258M), berita Marcopolo (1292M), berita Ibnu Battutah (abad ke-14), batu nisan makam Sultan Malik Al-Saleh (1297M), dan penyebaran ajaran Tasawuf (abad ke-13).

Menurut Snouck Hurgronye, bahwa Islam di bawa ke Indonesia oleh orang Islam dari Gujarat (India). Jadi Islam tidak disebarkan langsung dari Arab, sebab hubungan antara Arab dengan Indonesia secara langsung baru terjadi pada abad ke-17, yaitu pada masa kerajaan Banten, Mataram, dll. Adapaun tentang golongan masyarakat pembawa agama Islam ke Indonesia adalah kaum pedagang, selain itu pada masa berikutnya terdapat pula mubaligh atau guru-guru agama yang pekerjaannya lebih khusus mengajarkan agama. Kedatangan mereka ini lebih mempercepat Islamisasi, sebab mereka itu kemudian mendirikan pesantren yang mencetak kader-kader ulama / guru-guru agama. Golongan yang lain adalah penganut Tasawuf (Kaum Sufi) yang kedatangannya diperkirakan pada abad ke-13.

Selain golongan pembawa, terdapat pula golongan penerima Islam. Di Indonesia dikenal dua kelompok, yaitu golongan elit (Raja, Bangsawan, dan Penguasa), dan golongan non elit (lapisan masyarakat bawah). Di samping sebagai penguasa politik golongan elit juga mempunyai peranan dalam menentukan kebijaksanaan perdagangan dan pelayaran. Diantara golongan elit juga adalah pemilik saham dan pemegang monopoli dagang atau pelayaran. Misalnya Raja Aceh memonopoli lada, Mataram Memonopoli perdagangan beras. Dengan adanya golongan ini, maka penerimaan Islam lebih cepat dibandingkan dengan lapisan bawah.

Keatangan islam ke berbagai daerah di Indonesia ternyata tidak bersamaan. Faktor komunikasi, situasi, kondisi politik, serta latar belakang sosial budaya masyarakat setempat ikut menentukan proses Islamisasi di daerah-daerah Indonesia.

Dengan kemunduran Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-13, maka pedagang-pedagang muslim berkesempatan mendapatkan keuntungan dagang juga memberi dukungan terbentuknya Kerajaan Samudra Pasai. Dari Samudra Pasai, Islam kemudian berkembang ke arah Malaka.

Penyebaran Islam di Jawa diduga berasal dari Malaka, tetapi kapan hal itu berlangsung belum dapat diketahui dengan pasti. Bukti tertua tentang Islam di Jawa adalah batu Nisan makam Fatimah Binti Maimun di Leran<>

Di saat Majapahit mengalami masa kemundurannya yaitu pada awal abad ke-15, muncul kota Tuban dan Gresik sebagai pusat penyebaran Islam, yang pengaruhnya meluas sampai ke Maluku. Kota penyebaran Islam yang lain adalah Demak. Dari Demak kemudian Islam meluas ke daerah pesisir di utara Jawa Barat. Menurut Tome' Pires bahwa pengaruh Islam di daerah Cirebon sudah ada pada sekitar tahun 1470-1475, dan penyebaran Islam di daerah Cirebon sudah ada pada sekitar tahun 1470-1475, dan penyebaran Islam di Cirebon ini dilakukan oleh Fatahilah atau Falatehan atas perintah Raden Patah.

Bagi Demak, usaha menanamkan pengaruh Islam di pesisir utara Jawa Barat tidak dapat dipisahkan dari tujuan politik maupun ekonomi. Sebab pelabuhan Sunda, seperti Cirebon, Sunda Kelapa, dan Banten amat potensial sebagai daerah pemasaran hasil buminya.

Penyebaran Islam ke daerah Maluku juga melalui perdagangan antara Malaka, Jawa, dan Maluku. Islam masuk ke Maluku diperkirakan pada abad ke-13.

Penyebaran di Kalimantan Selatan dapat diketahui dari Hikayat Banjar. Proses Islamisasi di daerah ini diwarnai dengan adanya perpecahan di kalangan Istana. Yaitu antara Pangeran Tumenggung dengan Pangeran Samudra. Pangeran Tumenggung adalah Raja Dipa, Daha, Kahuripan yang bercorak Hindu, yang letaknya kira-kira di daerah Amuntai sekarang. Dalam peperangan antara kerajaan Banjar dengan Daha, Raden Samudra meminta bantuan Demak dengan perjanjian bersedia masuk Islam. Atas bantuan Demak maka Daha dapat dikalahkan, dan sejak itu kerajaan Banjar yang bercorak Islam berkembang, dan Raden Samudra kemudian Bergelar Sultan Suryanullah. Proses Islamisasi di Banjarmasin ini berlangsung sekitar tahun 1550.

Sedangkan proses Islamisasi di Sulawesi Selatan khususnya di kerajaan Gowa dan Talo berjalan Damai, dan berlangsung pada tahun 1605.

Proses Islamisasi di Indonesia pada umumnya berjalan dengan damai, namun ada kalanya harus diwarnai dengan penaklukan. Disamping itu Islam juga berfungsi sebagai alat untuk mempersatukan politik menghadapi lawan.

NEXT : SALURAN DAN CARA-CARA ISLAMISASI DI INDONESIA.

No comments:

Post a Comment