SUMBER-SUMBER SEJARAH LOKAL

SUMBER-SUMBER SEJARAH LOKAL

Sudah diketahui, bahwa dalam ilmu sejarah dibedakan macam-macam tingkat sumber dengan kategori sumber primer, sekunder, tersier dan sebagainya. Pembedaan ini ditinjau dari segi authentisitasnya sebagai sumber, originalitasnya dan seberapa jauh sumber itu dipengaruhi oleh subjektivitas manusia (dalam hal ini si "pembuat" sumber).

    Dalam ilmu sejarah, urain berdasarkan sumber primer mempunyai nilai lebih tinggi. Penggunaan sumber sekunder dan seterusnya hanya untuk koreksi atau komparasi pendapat-pendapat mengenai interpretasi sumber primer.     Penggolongan sumber-sumber primer lebih menjamin timbulnya uraian yang original.
    Bagaimana halnya dengan sumber-seumber sejarah Lokal? Kata Lokal disini telah pula member sifat pengehususan dari sumber sejarah, sehingga sumber-sumber tersebut dibatasi menurut lingkup areal yang dimaksud. Karena tiap daerah Lokal mempunyai sifat yang berbeda dengan yang lain, maka sumber-sumber tersebut sudah semestinya dicarai atau "digali" dari daerah setempat. Sumber-sumber ini dapat berupa surat-surat resmi daerah setempat, catatan-catatan pribadi (pejabat atau tokoh), sumber-sumber adat kebiasaan setempat dan tradisi tertulis maupun lisan. Di samping sumber-sumber dari "dalam", perlu pula perbandingan dengan sumber-sumber "luar".
    Dokumen-dokumen dalam bentuk arsip catatan-catatan, laporan-laporan, peraturan-peraturan, maupun uraian-uraian dari jaman kolonial yang dibuat oleh Pemerintah atau pejabat-pejabat perseorangan merupakan sumber yang tak dapat diabaikan.
    Adalah keuntungan bagi ilmu sejarah, karena pejabat-pejabat pemerintah tersebut untuk kepentingan konduite berusaha mengenal daerah tempat kerjanya dengan baik dan melaporkan dengan teliti kejadian-kejadian ataupun perkembangan daerahnya secara mendetail kepada atasannya.
    Sumber-sumber ini berguna untuk menjaring sumber-sumber "dalam" yang kebanyakan tidak tertulis dan berupa cerita-cerita rakyat, peribahasa, dongeng, hikayat, pelipur lara dan lain-lain. Sumber-sumber "dalam" yang berupa tradisi tertulis seperti babad, kronik, hikayat, tambo perlu pula diperbandingkan.
    Sudah terang bahwa sumber "luar" maupun "dalam" masing-masing mempunyai kekuatan maupun kelemahannya. Kekuatan sumber "luar" terletak pada ketelitian penyususnan kronologis tiap-tiap peristiwa dan rasonil. Kelemahannya adalah karena keterangan-keterangan dari luar kurang menyentuh "isinya" dari kejadian-kejadian dan persoalan-persoalan yang terdapat dalam masyarakat bumiputera. Penghampiran yang hanya menyentuh "kulit" sering melupakan factor-faktor kejiwaan, seperti kegemaran penduduk, pandangan hidup, adat kebiasaan, yang mendasari semua tindakan dan perbuatan. Factor-faktor kejiwaan ini hanya dapat diungkap dari sumber-sumber "dalam", karena sumber-sumber itu "dicipta" oleh masyarakat itu sendiri, yang hidup dan menghayati sendiri tiap-tiap kejadian daerahnya.
    Kelamahan sumber-sumber 'dalam" terletak pada susunan yang kurang teratur, anachronis, dan mencampuradukan hal-hal yang idiil dengan kenyataan. Penggunaan kedua macam sumber tersebut secara hati-hati dengan menyadari kekuatan dan kelemahan masing-masing dan subjektifitas yang terdapat di dalamnya, dapat melahirkan uraian Sejarah Lokal yang baik.

Post a Comment

Previous Post Next Post