KERAJAAN HINDU-BUDHA ASIA SELATAN:

KERAJAAN GUPTA

Oleh : Ferry Nurcahyo

PENDAHULUAN

kerajaan pada zaman India kuno banyak disebutkan dalam susastra Hindu, seperti misalnya Weda, Mahabharata, Ramayana, dan Purana. Salah satu kitab tersebut yaitu Mahabharata yang membahas banyak hal mengenai situasi politik dan keadaan geografi pada zaman kerajaan kuno di India. Kitab Ramayana juga memberikan sedikit informasi. Sebelum adanya kitab Mahabharata, Rigveda juga menguraikan situasi politik dan keadaan alam pada masa India kuno. Setelah zaman Mahabharata berakhir munculnya zaman Purana, yaitu masa pemulisan kitab-kitab mitologi memaparkan situasi politik dan geografi di sekitar India pada masa itu.

Tentang kapan berdirinya kerajaan-kerajaan di India pada masa lampau tidak diketahui dengan jelas dan tepat sehingga disebut “era mitologi”. Zaman keemasan India kuno menurut data klasik terentang selama millenium pertama. Pada zaman prasejarah India, ilmu politik dipercaya muncul bersamaan dengan ditulisnya Weda yang pertama, yaitu Rigveda (sekitar tahun 1500 SM). Kerajaan dalam Ramayana muncul sekitar tahun 500 SM dan dalam Mahabharata sekitar tahun 400 SM. Kerajaan tersebut berakhir ketika munculnya Kerajaan Maurya tahun 321 SM. Sedangkan mengenai kerajaan Gupta tidak terdapat dalam kedua kitab tersebut.

Rumusan masalah

1. Bagaimana latar berdirinya kerajaan Gupta?

2. Siapa saja raja yang pernah memerintah kerajaan Gupta?

3. Bagaimana kehidupan yang terjadi di dalam kerajaan Gupta?

4. Bagaimana proses keruntuhan kerajaan Gupta?

Tujuan masalah

1. Mengetahui latar berdirinya kerajaan Gupta

2. Mengetahui saja raja yang pernah memerintah kerajaan Gupta

3. Mengetahui kehidupan yang terjadi di dalam kerajaan Gupta

4. Mengetahui proses keruntuhan kerajaan Gupta

BAB I

Gambaran umum tentang kerajaan Gupta

A. Latar belakang berdiri

Kerajaan Gupta terletak di anak benua Asia yang lebih terkenal dengan sebutan India merupakan wilayah yang secara geografis terletak di Asia Selatan tepatnya di India Utara. Kerajaaan Gupta merupakan kerajaan bercorak Hindu-Budha. Kerajaan Gupta ini muncul sejak kerajaan Kushana di India bagian utara pecah dan bagaikan lenyap dari muka bumi, karena tidak ada sumber yang bisa diceritakan. Wilayah anak benua India tersebut hingga awal abad VI SM bagaikan tak ada yang mengontrol, kekacauan terjadi dimana-mana selama waktu yang lama yang cukup lama. Hal ini mungkin terjadi karena pertempuran antar kerajaan dan tidak adanya kerajaan yang dominan. Namun pada abad VI SM , bagaikan muncul begitu saja dari balik kabut atau memenangkan peperangan diantara kerajaan yang berperang selama dua abad tersebut, muncullah Chandragupta diatas panggung sejarah dan membuat stabilitas di India utara menjadi aman dan kembali cemerlang sekaligus memulai babaksejarah baru India.

Nama Chandragupta merupakan tokoh yang kontroversial dan misterius karena tidak mempunyai asal-usul yang tidak diketahui dengan pasti. Menurut sumber yang tidak bisa dipastikan kebenarannya, Chandragupta adalah seorang petualang dari kalangan masyarakat rendah. Namun pada abad IV SM berhasil mendirikan dinasti Gupta, setelah mengawini seorang putri raja bernam Kumala Dewi yang berasal dari suku Licchavi yang termashur di Vaisali. Suku bangsa tersebut pernah berkuasa di India Utara, namun tenggelam oleh dinasti Maurya. Dengan perkawinan tersebut Chandragupta mempunyai alasan dan kesempatan untuk mengembangkan diri menjadi seorang yang dipertuan di kawasan Lembah Gangga hingga pertemuan sungai-sungai Gangga dan Yumna di Prayaga, yaitu di kawasan Allahabad sekarang. Dan menetapkan Pataliputra sebagai ibukota, tempat pusat pemerintahan. Tanggal 26 Februari 320 Masehi ditetapkan sebagai awal massa pemerintahannya sebagai raja.

Hal itu ditandai juga dengan dikeluarkannya mata uang baru untuk melestarikan kehormatan Raja dan Permaisuri, yang bergelar Mahara jadi raja. Pada tahun itu pula yang kemudian ditetapakan sebagai awal Tarikh Gupta.(Suud A,2006:199)

B. Raja-raja yang memerintah:

Chandragupta

Ramagupta Skandagupta

Samudragupta Skandagupta

Chandragupta II Kumaragupta


1. Chandragupta,

sebuah nama yang sudah terkenal di zaman purba yang merupakan pendiri dinasti Gupta. Beliau memerintah dari tahun 320–330, dan pada 322 SM Chandrgupta resmi naik tahta yang dari hasil kudeta yang dia pimpin dari kekuasaan dinasti Nanda. Hal penting yang patut dicatat pada masa Chandragupta adalah perisnggungan India dengan bangsa asing, tepatnya kekaisran Macedonia yang dipimpin oleh pemimpin agung Alexander the great (iskandar zulkarnain). Peristiwa ini berlangsung dua tahun sebelum Chandragupta naik tahta. Kedatangan Macedonia tidak hanya mempunyai maksud politis saja tetapi juga misi penyebaran budaya barat ke daerah timur. Beberapa sumber mengatakan bahwa ekspansi Alexander the great tidak mempunyai motif politik sama sekali, karena pasukan Macedonia hanya lewat saja dan tidak meneruskan penyerangan kearah timur, dan bahkan mereka kembali lagi ke barat (Eropa).

Seperti halnya daerah-daerah timur yang lain, pasca ekspansi bangsa barat adalah kemunculan budaya hellenisme. Yaitu perpaduan budaya timur dengan budaya barat. Sejak masa tersebut semakin terbuka hubungan barat dengan dunia timur. Hal inilah yang kemudian mendorong India semakin menjelma menjadi pusat peradaban penting dunia. Banyak ilmuan yang kemudian datang dan pergi di India. Hal yang juga patut dicermati adalah pada masa itu sejarah India telah ditulis oleh salah satu kaki tangan Alexander the great yang selalu mengiringinya kemanapun dan kapanpun ia pergi.

Chandragupta naik tahta pada masa dan saat yang penting. Yaitu beberapa saat pasca kematian Alexander the great, sehingga dengan sekuat tenaga akhirnya dia berhasil menguasa daerah-daerah yang tadinya dikuasai oleh Macedonia, dan bahkan Chandragupta berhasil menjalin hubungan dengan musuh Iskandar Zulkarnain, Seloucos Nicator (penguasa Yunani di Asia Barat). Persahabatan ini memberi peran penting dalam menggambarkan situasi Maghada pada saat Chandragupta. Penguasa yunani tersebut banyak membantu Chandragupta dalam menulis sejarah India. Penulis hasil bantuan penguasa Yunani tersebut banyak menggambarkan keindahan dan keelokan Maghada yang terletak pada lembah sungai Gangga.

Akhir hayat Chandragupta diakhiri dengan bebrapa catatan penting. Ia merupakan raja yang disegani kawan maupun lawan, rakyat dan juga umum. Sebagi para umumnya raja, dia mempunyai Bayangkari, yaitu pasukan khusus pengawal raja yang terdiri dari wanita-wanita asing yang berenjata lengkap, yang selalu mengiringi Chandargupta sebagi pasukan berkuda. Selain itu dia juga membuat jalur dari Takshosila kedaerah Bactria. Jalan itu digunakan sebagai jalur perdagangan dan ketentaraan. Pada masanya perdagangan memang sangat maju, bahkan uang Persia dan uang Yunani lebih banyak melihatan di kerajaannya dari pada uang Chandragupta (India). Dia juga telah mengembangkan pedagangan di laut, meskipun hanya di bagian teluk Persia dan laut Aden saja. Selain mempunyai pasukan pengawal pribadi, lascar Chadnrgupta merupakan elemen penting bagi kuatnya kerajaan Maghada. Laskar ini mempunyai jumlah kereta dan gajah yang sangat banyak. Jumlah gajah laskar ini berkisar antara 9000 untuk jumah gajahnya dan 30000 untuk jumlah keretanya. Selain pasukan gajah dan kereta, dia juga mengembangkan jumlah infatrinya yaitu sekitar 60000 orang. Laskar-laskar perang berasal dari satu kasta tersendiri. Ketika tidak ada perang, pekerjaan mereka hanya makan dan tidur semata. Tatepi mereka tidak diperkenankan untuk mempunyai banyak harta benda. Ini bermaksud untuk menjadikan laskar-laskar tersebut selalu siap sedia katika di butuhkan kapanpun dan dimanapun.

Chandragupta juga semakin memperkut eksistensi kasta sebagai pola sosial di India pada saat itu. Dia melarang keras perkawinan yang melibatkan kasta yang berbeda. Walaupun banyak kasta yang berkembang di India pada saat itu, Chandragupta dianggap sebagai raja yang giat dan juga adil. Walaupun hukuman yang dijatuhkan cenderung keras, tetapi dia tidak banyak menjatuhkan hukuman. Hukuman sebatas dijatuhkan bagi mereka yang benar-benar melanggar aturan kerajaan. Chandragupta juga melakukan penaklukan terhadap daerah-daerah seperti Archosia (Kandahar), Paropanisadae (Kabul), Asia (heart), Gedrosia (Baluchistan) dan meminta daerah-daerah tersebut untuk mengembalikan gajah-gajah perang India yang berjumlah sekitar 500 gajah.

2. Ramagupta

Raja yang memerintah menggantikan Chandragupta, namun tidak ditemukan sumber buku sejarah yang mengemukakan kakak dari Samudragupta tersebut. Konon tokoh ini sangat disembunyikan dari dinasti Gupta, karena kekalahan Ramagupta dalam usaha menaklukkan suku bangsa Saka sekitar tahun 335. Sehingga terpaksa digantikan oleh adiknya yaitu Samudragupta. .(Suud A,2006:201)

3. Samudragupta

Raja yang memerintah antara tahun 330-375 merupakan dari anak Chandragupta dan menjadi raja setelah menggatikan Ramagupta. Raja ini termasuk salah seorang Raja­ India yang dapat dibandingkan dengan Napoleon sehubungan dengan kemenangan-kemenangan yang diperoleh dari peperangan-peperangan yang dilakukannya. Samudragupta adalah Brah­min yang setia kepada Hindu dan ingin memperluas kerajannya. Tidak lama setelah raja dinobatkan, beliau mulai memerangi kerajaan-kerajaan yang terletak di sekitar kerajaannya, menaklukkan daerah Hindustan dan daerah-daerah yang terletak di sebelah utara. Setelah itu Samudragupta mengadakan persiapan untuk menyerang daerah-daerah di sebelah selatan yang sukar sekali untuk dimasuki.

Raja berhasil menaklukkan Kosala Selatan, Ngapur, Orissa dan India Tengah. Peperangan dilanjutkan ke bagian paling selatan melalui sungai Mahanadi, Godavari dan menaklukkan kerajaan-kerajaan Kalinga dan Pallaya (sekarang di daerah Madras). Kemudian Samudraguta mengambil jalan ke sebelah barat, melalui kerajaan-kerajaan Mahrata, Devarashtra dan Khandesh. Peperangan memakan waktu lebih dari 3 tahun, perjalanan tentaranya lebih dari 3000 mil. Dari peperangan tersebut, beliau mendapatkan tawanan, permata dan barang­-barang berharga lainnya, yang kemudian diangkut ke ibukota. Negeri-negeri yang diperangi tidak semuanya dapat dimasukkan ke dalam kerajaannya. Yang berada di bawah pemerintahannya adalah daerah Hindustan, sebagian dari India Utara dan India Tengah. Yang lainnya hanya sebagai kerajaan-kerajaan yang membayar upeti dan berada dibawah perlindungan kerajaan Gupta. Raja juga mengadakan kerja sama dengan Megavarna, Raja Sailan yang menganut ajaran Buddha.

Salah satu hasil dari kerja sama itu adalah ajaran Buddha mendapat perlindungan dari Raja Samudragupta dan raja memberikan izin untuk mendirikan suatu vihara dekat pohon Bodhi Gaya. Akan tetapi raja tetap memperkuat pengaruh agama Hindu, seperti dengan menghidupkan kembali pengorbanan kuda liar (asvamedha) yang biasa dilakukan oleh Raja Pushyamitra. Sebagai tanda peringatan, Raja Samudragupta memahat riwayat kemenangan-kemenangannya pada tiang batu. Salah satu batu peringatan itu masih tersimpan sekarang dalam benteng di kota Allahabad.

4. Chandragupta II bergelar Vikramaditya (375-415),

Pada massa pemerintahannya wilayah kerajaan Gupta bertambah luas. Daerah-daerah di sekitar Indus yang dikuasai orang Saka (Scyth) berhasil ditaklukkannya, negeri - negeri kaya di India Barat seperti Gujarat dan Malwa juga ditaklukkan. Kerajaan Gupta mempunyai pelabuhan-pelabuhan, kapal-kapal yang memudahkan perhubungan dengan Mesir melalui Laut Kolzum (Laut Merah).

Menurut pemuka ajaran Buddha dari Tiongkok, Fa Hien, ibukota Pataliputta merupakan kota yang indah, namun tidak didiami oleh raja lagi. Raja tinggal di Ayodya, kota tempat tinggal Buddha semasa kecil, kota itu diperbaiki dan diperluas. Pataliputta kemudian lenyap di abad ke-6, dihancurkan oleh bangsa Huna yang menyerbu dari utara. Pemuka ajaran Buddha dari Tiongkok yang lain, yakni Huan-Tsang, mengatakan bahwa saat beliau berada di India pada tahun 650, beliau hanya melihat bekas-bekas kota itu saja. Di masa pemerintahan putranya Chandragupta II Yikramaditya, kerajaan Gupta mencapai puncak kebesarannya. Keadaan kerajaan sangat makmur dan sentosa, pemerintahan dijalankan oleh raja dengan bijaksana selama 30 tahun.

5. Kumaragupta

Raja yang menggantikan kedudukan Chandragupta II Sebagai raja dan memerintah pada tahun 415- 455 Masehi.

6. Skandagupta Raja yang menggantikan kedudukan Kumaragupta sebagai raja dan memerintah pada tahun 455- 467 Masehi.

Skandagupta Merupakan raja terakhir dari dinasti Gupta. (Suud A,2006:200-204)

BAB II

Kehidupan dan kebudayaan kerajaan Gupta

A. Bidang politik

Kerajaan di India terutama pada kerajaan Gupta pada khususnya, tidak berdiri sebuah pos perbatasan antar kerajaan dan perdebatan mengenai batas wilayah jarang terjadi. Seorang Raja biasanya membuat angkatan perang (biasanya disebut Digvijaya yang berarti pemenang dari segala pemimpin) dan menaklukkan kerajaan lain dalam suatu pertempuran, berlangsung dengan cepat atau bisa juga selama berhari-hari. Raja yang kalah harus mengakui keunggulan dari Raja yang menang. Raja yang kalah kadang-kadang menyerahkan upeti kepada Raja yang menang. Upeti dikumpulkan hanya sekali, tidak secara berkala. Biasanya, Raja yang kalah bebas mengatur kerajaannya sendiri, tanpa mengadakan hubungan pemerintahan dengan Raja yang menang. Tidak ada kerajaan yang bergabung dengan kerajaan lain untuk lebur menjadi satu. Beberapa Raja biasanya membuat suatu upacara kenegaraan (contohnya Rajasuya atau Aswamedha). Raja yang kalah diundang oleh Raja yang menang dan harus mau datang sebagai teman atau sekutu. (Suud A,2006:202)

B. Bidang sosial

Menurut fa hien tercatat timbul kedamaian di india dan gaya kepemimpinan yang lembut dalam pemerintahan kerajaan Gupta. Mengenai jurnal kejahatan adalah tingkat tarif dan orang yang biasa bepergian dari satu dan kerajaan ke lain merasa aman karena tanpa kejahatan dan dengan tidak perlu mengurus dokumen perjalanan. Dan ia buat catatan khusus tentang rumah sakit untuk merawat penderita sakit didukung oleh tujuan pribadi. Ia juga katakan bahwa semua orang-orang terhormat, mungkin yang dimaksud adalah mereka yang berada pada kasta/suku bangsa tinggi serta hidup sebagai vegetarian. Suatu yang kecenderungan unik untuk mempunyai daya gerak diambil, tetapi bahwa yang urutan yang lebih rendah makan daging dan karenanya telah dihormati seperti sumber polusi, suatu aspek pengarah yang bagi kasta/suku bangsa adalah yang pertama ke luar sisi untuk menguraikan. Ia menguraikan budhism ketika masih melambaikan tetapi kelihatannya sedang dalam proses diserap kembali ke dalam hindiusme dari yang yang telah mula-mula bersemi. Di dalam pada umumnya, menunjukkan suatu kemakmuran yang tenang, dan dengan lembut beroperasi masyarakat, yang mungkin membandingkan dengan Cina/ keramik. Karena waktu itu masih menderita dari kekacauan setelah kejatuhan han dinasti dan kemuliaan tentang berita kebangkitan kembali dari rasa keras itu.(Murphey,19191:38)

C. Bidang kesenian

Pada masa Chandragupta II merupakan masa paling makmur bagi dinasti Gupta, sehingga mendapat julukan sebagai permata utama bagi kerajaan Gupta. Gupta periode adalah jaman yang sangat makmur sanskrit literatur, mencakup puisi dan drama, dan orang indian klasik memahat dan monumen yang membangun, namun hanya fragmen seni sudah selamat selama berabad-abad, karena sejak berbunga budaya Gupta hampir sama bertenaga selatan, di luar gupta kendali dan di selatan kedua-duanya dan utara nampak hanya untuk mengambil kebangkitan kembali sebagian besar mauryan kehebatan masa lalu.

kalidasa, seorang penulis drama yang sering mempergelarkan drama-dramanya dihadapan raja .Secara luas disambut tepuk tangan seperti india dramawan dan penyair terbesar. Hidup atau tinggal dan yang dikerjakan almarhum keempat dan awal berabad-abad ke lima, dekat puncak gupta tenaga dan ungkapan cemerlang dari budaya umur/zaman lebih lanjut. Banyak dari pekerjaan sudah selamat, dengan fragmen beberapa lain, barangkali sebab mereka menjadi sangat secara luas menyebar. Mereka masih membuat segar idan pemikatan yang rmemberi komentar tentang kelemahan keberadaan manusia dan tentu saja dapat dibandingkan dengan karya shakespeare's dan syair/puisi.(Murphey,19191:38)

Macam-macam jenis seni:

1. Seni patung: seni ini diabadikan kepada penyembhab patung yang diberi mahkota sinar dibelakang kepalanya, mahlota ini dinamakan ‘’hallo’’ dan banyak diberi ui batkiran . selain itu banyak juga dibuat orang patung siwa dan wisnu, baik batu atau perunggu.

2. Seni ukir: mempunyai cirri-ciri tumbuhah-tumbuhan menjalar , dari twmas ini terdapat peninggalan antara lain patung Budha bermahota sinar dan beberapa patung Bidhisatwa.(Sari,1944:92)

Contoh-contoh kesenian:

1. Lukisan: lukisan ini hanya dapat ditemukan pada dinding kuil-tidak ada yang digambarkan diatas kaian atau kayu. Tetapi lukisan ini sudah romping dana warna tidak terang,

2. Tugu perunggu: ini ,m rupakan suatu kemajuan teknik, tugu-tugu terbuat dari hanperunggu sperti tugu meherauli di Delhi

3. Uang mas: uang ini dalam pembuatatnya lebih bai k dari uang pada masa kerajaan Kushana. Pada umunya sudah terang, bahwa pada sampai sekrang kita jauh lebih banyak berjumpa dengan peninggalan seni ukir, seni patung, stupa, khaitya, dan biara. (Sari,1944:92)

D. keagamaan

Sebagai kerajaan yang wilayah kekuasaannya dominan di India yang mencakup India bagian utara. Salah satu tempat paling suci bagi umat Hindhu adalah pohon Bodhi di Bodh Gay. Untuk memudahkan para biku sinhales berasal dari Sri Langka yang berziarah, maka Raja Samudragupta mendirikan sebuah biara yang indah lengkap dengan enam buah aula dan tiga buah menara tinggi yang dikelilingi oleh sebuah tembok setinggi 10 hingga 12m. bangunan itu dihiasi warna kemilau serta berisi sebuah patung Budha yang dilapisi emas dan perak serta batu-batuan mulia. Sedangkan daya tamping biara tersebut mencapai seribu orang biku. Sebagai imbalannya raja Sri Langka yang bernama Maghvarman(350-380) diharuskan membayar upeti serta mengakui kekuasaan kerajaan Gupta.

Selain itu sebagai seorang raja, dia adalah seorang Brahmana ortodoks. Namun dia mengangkat seorang penasihat dari mereka yang beragama Budha yaitu Vasubhanda. Diwaktu senggangnya, sang raja mempelajari kesustraan dan music, karena dia seorang penyair dan pemusik serta gemar mengikuti pembahasan mengenai agama.

Menurut Fa hien, etika Budhis maupun jainisme mulai meresap dalam sanubari masyarakat India. Mereka bersifat lebih manusiawi dan ramah, tidak seperti masa Maurya berkuasa. Ajaran brahmanisme menggantikan peran Hinduisme. Ini merupakan ciri pada masa Gupta. (Suud A,2006:204)

BAB III

KERUNTUHAN KERAJAAN GUPTA

A. Penyebab keruntuhan

Masa-masa setelah kepemimpinan raja Chandragupta merupakan masa suram bagi sejarah kerajaan Gupta. Hal ini karena terjadi berbagai penyerbuan dari kerajaan lain seperti suku bangsa Ephalit atau Huna putih yang berasal dari Asia tengah. Yang menurut versi Yunani, setelah menduduki kawasan Bactria kuno di tepi sungai Oxus, mulai bergerak ke selatan. Untuk sementara, pasukan Skandagupta berhasil menahan arus serangan itu dengan bangga. Untuk mengenang peristiwa itu maka dibangunlah sebuah candi atau tonggak kemenangan dari batu yang dipancangkan di Bhitari itu digambarkan bagaimana Skandagupta berlari kencang memasuki istananya di Ayodya. Tonggak batu berbunyi antara lain : ‘’ seperti Sri Kresna, setelah berhasil membunuh musuh-musuhnya dia pergi sendiri ke arah ibunya, Devaki’’.

Namun setelah kerajaan Gupta dipimpin oleh Paragupta keadaan mulai berbalik. Paragupta tak berhasil menandingi kekuatan musuh, ketika mereka melancarkan serangan. Maka perpecahan segera muncul di ambang pintu bekas kerajaan Gupta yang jaya itu. Tepatnya pada tahun 484 M suku bangsa Ephalit atau Huna putih berhasi menyerbu dan menaklukkan Persia dan membunuh Rja bangsa Sassanid, Feroz dan melarikan putrinya.

Akibat dari serangan yang keduakalinya tersebut membuat panggung sejarah di India Utara mengalami kegelapan. Terutama kerajaan Gupta yang mengalami kemunduran dengan hanya tersisa tiga negara kecil di lembah sungai Gangga yaitu Maiwa,Maukhari dari Kanauj, dan Vardhana dari Tharesar. Sedangkan diantara ketiga negara tersebut juga sering terjadi peperangan dan senantiasa juga mendapat ancaman dari suku bangsa Huna maupun Gurjara.(Suud A,2006:205)

C. perbandingan kerajaan Gupta dengan kerajaan Magadha


ü Magadha merupakan kerajaan besar di India utara. Kerajaan ini mulai terpandang sekitar tahun 540 SM. Pada saat itu raja yang memerintah adalah Raja Bimbisara. Raja tersebut memerintah tepat di Ibu kota kerajaan yaitu Rajgir (sekarang Rajagriha

ü Gupta merupakan kerajaan besar di India utara. Kerajaan ini tersebut berakhir ketika munculnya Kerajaan Maurya tahun 321 SM

ü Dinasti yang memerintah di kerajaan Magadha ada lima. Dinasti pertama yang membangun kerajaan Magadha adalah Dinasti Sisunaga

ü Dinasti yang memerintah di kerajaan Magadha hanya ada satu yaitu dinasti Gupta dan yang membangun dinasti ini adalah Chandragupta


Penutup

Kesimpulan

Kerajaan Gupta merupakan kerajaan yang didirikan oleh Chandragupta yang merupakan pendiri dari dinasti Gupta. Kerajaan ini menganut ajaran Hindu-Budha yang disesuaikan dengan masa dimana raja itu memerintah. Misalnya pada masa raja Chandragupta menganut Hinduisme dengan pusat pemerintahan di Ayodhya, sedangkan pada masa sebelumnya agama yang dominan adalah Budhisme dengan pusat pemerintahannya di Pattalipura. Kerajaan Gupta mengalami kejayaan pada masa pemerintahan raja Samudragupta. Sebuah tulisan yang terpahat pada tonggak zaman Ashoka menjadi buktinya, dimana berisi tentang berita penaklukan dalam bahasa Sansekerta.

Daftar pustaka

· Murphey, road. 1919, ‘’ A History of Asia”. New York:HarperCollins Pubisher Inc

· Su’ud, A. 2006. ‘’Sejarah Bangsa-bangsa Asia Selatan(prasejarah abad X)’’Jakarta:Dirjen Dikti Depdikbud

· www. Wikipedia.com/kerajaan Hindu-Budha India

· www.Google.com

· Sari, Anwar. 1994. Sejarah Kebudayaan India Kuno. Malang: DepDikBud dan IKIP Malang

0 comments:

Post a Comment