Lets Share Our InZpiration

28 March 2011

Renungan Hidup Untuk Aku, Kamu, dan Kita

Semakin hari Dunia semakin berkembang, manusia semakin pintar, manusia semakin berkuasa, dan manusia semakin lupa. Dimulai dengan Lupa waktu, waktu yang mereka gunakan untuk mencari uang, uang dan uang. Hingga pada akhirnya mereka akan lupa segalanya, lupa bahwa hidup hanya sementara, lupa bahwa kita hidup untuk generasi yang selanjutnya, dan lupa bahwa bukan hanya manusia yang hidup di bumi ini. Atau akan lebih parah bahwa kita lupa tuhan, lupa akan siapa sebenarnya diri kita, dan lupa bhawa waktu kita akhirnya tersita untuk hal duniawi saja.

Semakin dewasa aku semakin menyadari alangkah egoisnya kita ini, alangkah rakusnya kita ini sampai-sampai kita lupa bahwa kita di bumi tidak hidup sendiri. Kita jelas-jelas tau bahwa tuhan menciptakan 3 mahluk untuk hidup di bumi, manusia, tumbuhan dan binatang. Tumbuhan dan binatang memang diciptakan untuk hidup manusia, tapi bukan berarti kita harus semena-mena seperti saat ini, semakin hari kita semakin mempersempit rumah hewan-hewan yang hidup di hutan, sekarang lihat, hanya berapa persen hutan yang asri, tinggal berapa wilayah hutan yang belum terjamah dan tinggal berapa jengkal lagi tempat untuk hewan-hewan itu hidup.

Pada masa ini, tahun 2011 ini populasi hewan langka seperti harimau hanya berjumlah ratusan di Indonesia, entah apakah nanti anak cucu kita akan percaya dan bisa melihat secara langsung apa itu harimau, bagaiana wujudnya dan apa makanannya. Pernah kita berfikir akan hal itu? Radiasi nuklir mulai mengancam keselamatan manusia, saat ini memang hanya satu, tahun depan? Tahun depannya lagi? Aku yakin akan lebih banyak dan lebih besar, hanya tinggal menunggu waktu.

Hanya menunggu waktu, ya… layaknya sebuah bom waktu, alam yang kita injak-injak tanpa memperdulikan dampaknya ini memang sedang diam, hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka berbalik melawan kita, sampai tinggal menunggu waktu meratakan gedung bertingkat megah pencakar langit yang kita agung-agungkan. Sampai menunggu waktu membuat bumi yang ramai ini kembali sepi, hingga pada saatnya menunggu waktu untuk manusia sadar, sadar bahwa kita sudah terlalu jauh, sadar bahwa kita sudah keterlaluan, dan sadar bahwa kita salah.

Layaknya waktu, semua ini pasti aka nada akhirnya, entah besok atau mungkin beberapa saat nanti, kita tinggal menunggu air minum kita terkontaminasi, kita hanya menunggu kekeringan, kita hanya menunggu bahanya gas beracun, kita hanya menunggu lubang ozn semakin lebar, kita hnaya menungu… ya kita hanya menunggu. Antisipasi? Tentu ada antisipasi, tapi lihat, Jepang yang dikenal dengan teknologi terbesar diseluruh dunia-pun porak poranda akibat gempa dan tsunami, lalu siapa yang kita andalkan? Tuhan? Anda yakin Tuhan masih mau mendengarkan kita?

Aku sendiri bingung, bingung tindakan apa yang harus aku lakukan, aku enggak bisa Cuma diam dan menulis tulisan yang mungkin hanya dilihat satu atau bahkan dua orang saja. Lingkungan? Aku bukan tipikal orang ramah lingkungan, aku sering buang samaph sembarangan, tapi aku tetap berusaha, aku tidak mandi menggunakan air yang berlebihan, tapi apakah cukup jika aku saja yang melakukan itu? Menanam pohon? Syukurlah Orang tua ku bergerak dalam bidang ini, mereka membudidayakan tanaman jati, walapun lahan yang kami punya tidak seberapa besar namun kami berusaha, berusaha menyelamatkan anak cucu dan cicit kai kelak, agar bisa merasakan indahnya dunia ini, agar mereka tidak menyesal dan tidak menyalahkan nenek moyang mereka, agar mereka mengalami apa yang pernah kita alami.

Tapi aku akan tetap optimis, mudah-mudahan semakin banyak orang yang sadar, semakin banyak tindakan, semakin banyak tujuan dan semakin banyak hasil yang kita dapat untuk menyelamatkan bumi untuk aku, kau, kita, cucu kita dan untuk generasi berikutnya. Siapa saja yang membaca tulisan ini, tolong, tolong bantu saya mewujudkan cita-cita ini, tolong…saya mohon, tolong saya, karena dua orang baik, 3 orang lebih baik, 4 orang sangat baik, 5 orang luar biasa baik dan banyak orang akan sempurna baiknya, Trimakasih.

1 comment: