Lets Share Our InZpiration

15 August 2010

Prasasti seni pertunjukan

Sejarah Seni Pertunjukan pada abad VIII – X

Prasasti seni pertunjukan

Sumber-sumber untuk mengetahui kehidupan dan keberadaan seni pertunjukan masa ini adalah prasasti, kitab kesastraan, dan relief pada bangunan candi.

Sumber-sumber prasasti :

Prasasti adalah pertulisan kuno yang dituliskan pada lempengan logam atau batu. Prasasti Jawa kuno biasanya berisi tentang upacara penetapan sima (tanah perdikan) oleh pejabat kerajaan. Meskipun uraian di dalam prasasti itu secara singkat namun kita memperoleh gambaran tentang jalannya upacara sima, perlengkapan dan alat-alat upacara, siapa saja yang hadir, pesta makanan dan minuman, seni pertunjukan yang menyertainya (Haryono, 1980).

1. Prasasti Gandasuli II tahun 769 Saka

Di dalam prasasti yang berasal dari desa Gandasuli, Temanggung, tidak banyak keterangan tentang seni pertunjukan kecuali hanya penyebutan alat musik 'curing' dalam kaitannya dengan perlengkapan upacara. Kutiban singkat kalimatnya adalah:

8. (hu) minamahkan pangliwattan

9. 1 padamaran 1 pamapi(r)nya

10. ngan 6 curi (ng) 1 …

2. Prasasti Kuti tahun 762 Saka (18 Juli 840)

Prasasti yang ditemukan di Joho, Sidoarjo (Jawa Timur) ini terdiri atas 12 lempengan. Pada lempengan IVa dijumpai kata 'juru bañol' bersama-sama dengan para pejabat lainnya seperti tuha dagang, misra hino, misra hanginangin (baris 3). Keterangan tenteng seni pertunjukan dijumpai pada lempengan IVa sebagai berikut:

1. hanapuk warahan kecaka tarimba hatapukan haringgit abañol salahan.

2. tanparabyapara samangilalā drbya haji sawakanya manganti i sang hyang dharmā simanira cañcu

3. makuta sira cañcu manggala ring kuti. Mangkana yan pamujā mangungkunga curing hamaguta payung.

Istilah hanapuka, hatapukan, berasal dari kata ‘tapuk’ yang berarti ‘topeng’, sedangkan kata ‘haringgit’ berasal dari kata ‘ringgit’ yang berarti ‘wayang’. Kata ‘ringgit’ sampai sekarang masih ada di dalam bahasa jawa baru yang artinya juga ‘wayang’ atau bentuk bahasa Jawa karma ‘wayang’. Kata ‘abañol’ artinya lawak atau dagelan. Mereka termasuk di dalam kelompok 'sang mangilala drbya haji' yaitu pejabat kraton yang memperoleh gaji dari kraton (abdi dalem).3 Kalimat 'mangkana yan pamuja mangungkunga curing' dapat diartikan: 'demikianlah jika mengadakan pemujaan supaya menabuh curing'. Dari kalimat tersebut dapat dinyatakan bahwa membunyikan curing dalam kaitannya dengan upacara pemujaan.


3. Prasasti Waharu I tahun 795 Saka (20 April 873)

Prasasti ini berupa satu lempengan tembaga ditemukan di desa Keboan Pasar, Sidoarjo, dan merupakan salinan yang dibuat pada jaman Majapahit. Pada sisi belakang (Ib) di jumpai kata: widu mangidung dan mapadahi, yang termasuk di dalam daftar para pejabat kerajaan yang tidak boleh 'masuk' di daerah 'sima'. Beberapa di antaranya seperti kutipan berikut:

a. tuha dagang juru gusali mangrumbe manggunje tuha nambi tuha

judi.

b. tuha hunjaman juru jalir pabisar pawung kuwung pulung padi misra hino wli tambang … tpung

c. kawung sungsung pangurang pasuk alas payungan sipat jukung

pānginangin pamawasya hopan pangurangan skar tahun kdi walyan widu ma-

d. ngidung mapadahi sambal sumbul hulun haji amrsi watak i jro ityewamādi kabeh tan katamana ikanang sīma…

Dari kalimat tersebut, kata yang menunjukkan adanya jenis seni pertunjukan adalah kata ‘widu mangidung’ dan ‘mapadahi’. Widu mangidung dapat diterjemahkan dengan penyanyi wanita. Kata ‘widu’ sekarang ini berubah menjadi ‘biduan’. Adapaun kata ‘mapadahi’ berasal dari kata ‘padahi’ yang berarti ‘kendang. Kutipan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa 'widu mangidung’ dan ’mapadahi’ termasuk dalam 'watak i jro' yaitu golongan dalam (abdi dalem).

Dalam prasasti Waharu I (B) diperoleh keterangan pula bahwa seniman mapadahi (pengendang) hadir dalam upacara penetapan sima dan melakukan tugasnya menabuh kendang setelah acara pesta makan:

"sakrama ni manadah ring dangu umangse ta jnu skar, manabêh ta sang mapadahi".

Artinya : "setelah mereka selesai makan demikian lama, kemudian jnu skar (?) maju dan sang penabuh kendang menabuh instrument musikknya

4. Prasasti Mulak tahun 800 Saka (3 Oktober 878)

Prasasti yang terdiri dari 4 lempengan tembaga ini ditemukan di desa Ngabean (Magelang). Dalam salah satu baris kalimatnya (lempeng III a brs 5) disebutkan bahwa seniman tuha padahi bernama si Kuwuk hadir dalam upacara sebagai saksi dan kepadanya diberi hadiah (pasêk-pasêk) berupa kain:

III.a.5… tuha padahi si kuwuk rama ni mitra wdihan rangga yu 1

Artinya: pimpinan pengendang (yang bernama) si Kuwuk ayahnya

Mitra (diberi) kain wdihan rangga 1 pasang"

5. Prasasti Kwak I (Ngabean II) tahun 801 Saka (27 Juli 879)

Prasasti Kwak yang berasal dari desa yang sama dengan prasasti Mulak di atas berupa 1 lempeng tembaga. Dari prasasti tersebut diperoleh pula informasi tentang seniman yang hadir dalam upacara sima:

.3… tuha padahi si dhanam/maregang si sukla/mangla

4. si buddha/madang si kundi/mawuai si pawan kapua wineh mas 1 wdihan ragi yu 1 sowang sowing

Artinya:

3."… pimpinan pengendang, bernama Si Dhanam, penabuh rêgang (kecer) (bernama) si Sukla/

4. tukang masak sayur (bernama) si Buddha, tukang menanak nasi (bernama) si Kundi, tukang memasak air (bernama) si Pawan semuanya diberi emas 1 mãsa dan kain wdihan ragi 1 pasang masing-masing.

Dalam kutiban tersebut selain seniman tuha padahi juga seniman yang

lain yaitu 'marêgang’ (penabuh regang – simbal atau kecer?)

6. Prasasti Taji tahun 823 Saka (8 April 901)

Dalam prasasti tersebut upacara penetapan sima diuraikan dengan lengkap. Dalam pada itu tuha padahi juga hadir sebagai saksi. Pesta yang diadakan adalah selain makan minum juga menari atau mangigêl, serta adu ayam. Menarik perhatian adalah tarian dilakukan oleh semua yang hadir termasuk para pejabat kerajaan secara bergantian:

9."… i sampun tanda rakryan masawungan mangigêl ikanang rama kabeh molih

10. patang kuliling gumanti renanta mangigal …"

7. Prasasti Panggumulan 902 M (Titi Surti Nastiti, 1982)

Di dalam prasasti tersebut selain disebutkan tarian juga disebutkan gamelan yang ditabuh yaitu padahi, rêgang, dan brêkuk, seperti dapat

dibaca dalam kutiban berikut:

III.a.20. "…samangkana ng ingêlakên hana mapadahi marêgang si catu rama ni kriya mabrêkuk si

III.b.1 wara rama ni bhoga winaih wdihan sahlai mas ma 1 ing sowang sowang//

Artinya: "…adapun (yang) akan ditarikan ada mapadahi, marêgang

(bernama) Si Catu ayahnya Kriya, mabrêkuk (bernama) si Wara

ayahnya Bhoga, (mereka) diberi sehelai kain bebed dan emas 1

masa masing-masing".

8. Prasasti Poh tahun 905 M (Stutterheim, 1940:3-28)

Di dalam prasasti Poh selain disebutkan adanya seni musik gamelan dan juga seni tari dan lawak. Mereka (para seniman) diundang untuk menghadiri upacara penetapan sima sebagai saksi. Barangkali mereka juga menggelar pertunjukan. Gamelan yang ditabuh adalah padahi, rêgang, tuwung; sedangkan tariannya adalah tari topeng dan lawak:

IIb.13."…mapadahi matuwung si pati rama ni turawus ana

14. kwanus i rapoh winaih wdihan yu 1 mas mā 1 ku 1 muwah

mapadahai syuha rama ni wakul anakwanua i hinangan watak luwakan winaih mas ku 2 marêgang si wicar rama ni wisama

anakwanu

15. ai hijo watak luwakan winaih wdihan yu 1 mas mã

1//matapukan 2 simala anakwanua 1 sawyan watak kiniwang muang si parasi anakwanua 1 tira watak mdang kapua winaih mas mā 1

16. ing sowangsowang mabañol jurunya 2 si lugundung

anakwanua i rasuk watak luwakan muang si kulika anakwanua i lunglang watak tnep winaih wdihan yu 1 mas mā 6 kinabaihannya

17. ruang juru //"

Artinya

13. penabuh padahi penabuh tuwung (bernama) si Pati

14. ayahnya Turawus penduduk desa Rapoh diberi kain 1 yugala

dan emas 1 mãsa 1 kupang, dan penabuh padahi (bernama) Syuha ayahnya Wakul penduduk desa Hinangan wilayah Luwakan diberi emas 2 kupang, penabuh regang (bernama) si Wicar ayahnya Wisama penduduk desa

15. Hijo wilayah Luwakan diberi kain 1 yugala dan emas 1

masa // penari topeng ada 2 (bernama) si Mala penduduk desa Sawyan wilayah Kiniwang dan Si Parasi penduduk desa Tira wilayah Medang, semuanya diberi emas 1 masa.

16. Masing-masing, juru pelawak ada 2 (bernama) si

Lugundung penduduk desa Rasuk wilayah Luwakan dan si Kulika penduduk desa Lunglang wilayah Tnep semuanya diberi kain 1 yugala dan emas 6 mãsa

17. untuk 2 orang juru

9. Prasasti Lintakan tahun 841 Saka (12 Juli 919)

Dalam prasasti Lintakan ini diperoleh data tentang instrumen gamelan yaitu padahai, tuwung, rêgang, brêkuk, gandirawana hasta. Gamelan tersebut digunakan dalam perlengkapan upacara sima. Selain itu di antara seniman yang hadir dalam upacara adalah atapukan dan tarimwa (tarimba). Sangat menarik dalam hal ini adalah jumlah atapukan (penari topeng) ada 30 pasang:

III. 8. pinda atapukan

9. prana 30 hop rarai winehan pirak dha 1 kinabaihannya.Tarimwanya winehan pirak ma 1 kinabaihannya

Artinya: 8…. Jumlah penari topeng

9. ada 30 pasang semuanya anak muda diberi perak 1 dharana, (adapun) tarimwa (penari?) diberi perak 1 masa semuanya.

10. Prasasti Mantyasih III (OJO CVIII)

Dalam prasasti ini nama instrumen gandirawana hasta yang disebut dalam prasasti Lintakan ternyata merupakan 2 macam instrumen yang berbeda, terbukti dari nama penabuhnya disebut terpisah:

b.4. widu si majangut matapukan si barubuh juru padahi si nanja maganding si ksrni rawanahasta si mandal kapua winaih hlai 1 pirak ma 8 sowang-sowang //

Artinya: widu (penyanyi) bernama Majangut, penari topeng bernama Si

Barubuh, juru kendang bernama si Nanja, maganding (penabuh gending?) bernama si Kusni, penabuh musik rawanahasta bernama si Mandal semuanya diberi kain bebed 1 helai dan perak 8 māsa masing-masing

Di antara nama-nama pemusik tersebut, Krsni adalah nama wanita. Dalam prasasti yang lain kata widu sering diikuti oleh kata mangidung, atau hanya kata mangidung tanpa didahului kata widu.

11. Prasasti Paradah tahun 865 Saka (OJO XLVIII)

Dalam prasasti tersebut selain disebutkan padahi dan widu mangidung sebagai watak i jro, mabañol bernama si Kalayar. Selain itu dalam acara sajian tarian disebutkan:

46. … i tlas ning manamah mangigal yathakrama tuwung bungkuk ganding rawanahasta sampun sangkap ikanang iniga.

47. lakên malungguh sira …

Artinya:

sesudah melakukan sembah menarilah mereka yaitu tuwung,

bungkuk, ganding, rawanahasta. Sesudah selesai semua yang ditarikan mereka kemudian duduk …

Dalam kutiban tersebut terdapat kata 'bungkuk' yang mungkin sekali

artinya sama dengan 'brekuk' pada prasasti lain.

Kalau di dalam prasasti sebelumnya ditemukan istilah tuha padahi, juru padahai, di dalam prasasti yang berasal dari tahun 853 M (prasasti Air) ditemukan istilah padahi manggala (pemimpin pemain kendang). Selain itu juga disebutkan adanya 'muraba'. Barangkali perlu disebutkan juga jenis seni pertunjukan yang lain ialah 'rara mabhramana tinonton' pada prasasti Poh IIb.5: "rara mabhramana tinonton si karigna si darini muang si rumpuk muang wêrêwêrêhnya si jaway si baryyut". Artinya: 'dara (anak gadis) yang berkeliling ditonton bernama si Karigna, si Darini, dan si Rumpuk serta tunangannya bernama si Jaway dan si Baryyut". Kata ‘tinonton’ jelas menunjukkan bahwa gadis-gadis tersebut tentu gadis penari. Perlu dijelaskan bahwa nama orang yang didahului kata sandang si menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah rakyat biasa atau gadis desa.

12. Prasasti Tajigunung tahun Sanjaya 194 – 910 M

Dalam prasasti tersebut selain disebutkan tuha padahi dan arawanāsta juga disebutkan jenis pertunjukan dengan istilah 'memen': 'memen rakryan mangigal ri susukkan sima i taji gunung si angkus'. Istilah 'memen' juga dijumpai pada prasasti Jrujru tahun 852 Saka (930 M):

16. ytaha sakamenmen rakryan ta

17. hada rikang kala kapua amintonakên

18. . . . . matapukan wuwup pramukha

19. winaih ma 4 kinabaihannya awa

20. yang ki lungasuh grawana winaih ma

21. 4 sowang abañol si liwuhan

Dalam kutiban prasasti tersebut selain pertunjukan 'menmen' juga 'matapukan', 'awayang', dan 'abañol'. Istilah seni pertunjukan seperti tersebut juga ditemukan di dalam prasasti yang berasal dari tahun 902 M (van Naerssen, 1941): 'muang menmen si patinghalan, mabañol si pati bancil, muang si bari paceh, atapukan si giranghyasen . . . . ’

13. Prasasti Wukajana

Prasasti ini tidak berangka tahun, akan tetapi berdasarkan bentuk huruf diperkirakan berasal dari masa Balitung (van Naerssen, 1937: 444-446). Uraian tentang pertunjukan yang dipentaskan dalam upacara penetapan sima adalah:

9. "…hinyunakan tontonan mamidu sang tangkil hyang si nalu macarita bhimma kumara mangigal kica-

10. ka si jaluk macarita ramayana mamirus mabañol si mungmuk si galigi mawayang buatt hyang macarita ya kumara …"

Artinya:

9. "…diadakan pertunjukan (yaitu menyanyi oleh sang Tangkilhyang si Nalu bercerita Bhima Kumara dan menari

10. Kicaka, si Jaluk bercerita Ramayana, menari topeng (mamirus) dan melawak dilakukan oleh si Mungmuk, si Galigi memainkan wayang untuk hyang [roh nenek moyang] dengan cerita “bhima kumara".

Kutipan tersebut tidak hanya menyebutkan jenis-jenis pertunjukan mamidu, mamirus, mawayang, mangigal, tetapi juga lakon yang diceritakan yaitu Bhima Kumara (masa muda Bhima) dan nama tarian: tari Kicaka. Adapun ungkapan 'mawayang buatt hyang' dapat berarti 'pertunjukan wayang untuk arwah nenek moyang

TAG


Prasasti Gandasuli II tahun 769 Saka

Prasasti Kuti tahun 762 Saka (18 Juli 840)

Prasasti Waharu I tahun 795 Saka (20 April 873)

Prasasti Mulak tahun 800 Saka (3 Oktober 878)

Prasasti Kwak I (Ngabean II) tahun 801 Saka (27 Juli 879)

Prasasti Taji tahun 823 Saka (8 April 901)

Prasasti Panggumulan 902 M (Titi Surti Nastiti, 1982)

Prasasti Poh tahun 905 M (Stutterheim, 1940:3-28)

Prasasti Lintakan tahun 841 Saka (12 Juli 919)

Prasasti Mantyasih III (OJO CVIII)

Prasasti Paradah tahun 865 Saka (OJO XLVIII)

Prasasti Tajigunung tahun Sanjaya 194 – 910 M

Prasasti Wukajana

No comments:

Post a Comment