Lets Share Our InZpiration

30 June 2010

ARSITEKTUR MASJID KUNO BERSEJARAH

MASJID AL MASHUN (1906-1909) / MASJID AGUNG MEDAN

Medan adalah sebuah kota terbesar di Sumatera, didirikan pada abad XVII oleh Sultan Muhammad Perdasa Alam, yang pada waktu itu istanannya di labuhan Delli sekitar 10 Km di luar kota. Sejak tahun 1860 pntai Deli mulai menjadi kawasan perkebunan yang produktif, sejak tahun 1887 menjadi ibu kota wilayah pantai timur Sumatera. Keberhasilan perkebunan tembakau dari wilayah belakangnya yaitu Deli, menjadikan Medan pusat perdagangan dan dijadikan kota praja pada tahun 1909 oleh pemerintah kolonial Belanda.

Di tengah-tengah kota Medan sekarang terdapat sebuah Masjid raya atau masjid agung yang sangat indah dan megah, masjid tersebut di bangun pada masa Sultan Melayu Deli IX. Pembanganan masjid di mulai pada 21 Agustus 1906 dan dibuka pada 10 September 1909.

Masjid itu terletak dalam halaman luas terbuka yang luas nya sekitar satu hektar, terdiri dari bangunan utama, gerbang dan tempat wudhu. Unit utama berdenah segi delapan tidak sama sisi, pada sisi-sisi nya saling berhadapan lebih kecil, terdapat pourch, yaitu unit menempel dan menjorok keluar untuk masuk termasuk di depannya ada tangga. Pada pourch depan atau timur tepatnya pada ujung tangga sebelum masuk terdapat pelengkung majemuk, hal ini sama seperti masjid-masjid di Andalusia dan Kordoba.

Tata letak masjid sangat unik, pintu masuk utama melalui pourch depan yang bukan pada sisi terpanjang, sehingga terlihat pada satu sudut dan bukan pada sisi melebar maupun memanjang. Pada sisi kiri atau pada sisi selatan-timur dan kanan atau utara-timur dari ruang sembahyang utama di kelilingi oleh gang, gang tersebut memiliki deretan bukaan (jendela tak berdaun) lengkung, yang uniknya jendela tersebut berdiri di atas balok dan tidak langsung pada kolom. Bentuk depan segi delapan pada ruang sembahyang utama, diperlihatkan dengan kolom-kolom pada masing-masing titik sudut marmerberbentuk silindris yang menyangga pelengkung yang bentu dan hiasannya bercorak Moorish dan Arabesque. Di atas pelengkung-pelengkung tadi terdapat tambour tumpuan kubah utama. Kubah utama terbesar mengatapi bagian tengah di depan mighrab dan mimbar yang bentuknya seperti kubah model Turki, bedanya, i sini patah-patah bersisi delapan. Antara kubah, gang keliling dan bagian depan ruang sembahyang terdapat atap yang bersisi miring tunggal. Pada dinding tumpuan kubah atau tambour terdapat jendela atas, demikian pula pada dinding atas teras dalam, sehingga ruang sembahyang utama cukup terang. Kubah utama dikelilingi oleh kubah-kubah berbentuk sama namun lebih kecil mulai dari pourch depan, utara, selatan dan atap dari mighrab.

Masjid deli juga disebut dengan Masjid Agung Medan setelah nama kota di ubah, dan sebutan lain dari Masjid ini adalah Masjid Al Mashun. Masjid ini memiliki halaman keliling, tepat pada sumbu mighrab dan pourch masuk depan, dan di sebelah tiur terdapat gerbang. Meskipun masjid ini tidak dalam arsitektur hypostyle keberadaan gerbang tersebut memperkuat arah kiblat dan arah masuk ke dalam masjid, gerbang itu kemungkinan besar mendapat inspirasi dari masjid kuno di India, Arab dan Mesir. Gerbang besar terpisah oleh unit utama ini juga arsitekturnya model India, yang terdiri dari unit berdenah bujur sangkar, atapnya datar, di bagian depan untuk masuk terdapat pelengkung patah. Di sisi kiri kanan unit tersebut diapit unit yang berbentuk sama, namun lebih kecil dan pelengkung patahnya mati. Bagian atas gerbang tengah dan pengapitnya dihias dengan molding dan dentil, yaitu deretan kubus-kubus kecil, rapat seperti gigi.

Di sisi kanan atau di utaea-timur dari masjid ini terdapat minaret (menara), bentuknya cukup unik, denahnya bujur sangkar, menyangga bagian atasnya yang berbentuk silindris. Hiasan pada badan minaret campuran model Mesir, Iran dan Arab. Pengaruh Gotik juga terdapat pada masjid ini, antara lain bisa dilihat pada jendela bagian atasnya berambang patah, di atas terdapat bukaan berbentuk lingkaran. Mighrab cukup indah yang terbuat dari marmer, dan diatapi oleh kubah runcing.



NEXT : MASJID AL OSMANI (1870) LABUHAN DELI (MEDAN)

PREF : MASJID BAITURAHMAN, ACEH





NEXT : MASJID AL MASHUN (1906-1909) / MASJID AGUNG MEDAN

PREF : MASJID PENYENGAT (1899) TANJUNG PINANG RIAU



ARSITEKTUR MASJID KUNO BERSEJARAH

MASJID BAITURAHMAN (1881), BANDA ACEH


Banda Aceh, dulu lebih dikenal dengan nama kuta raja, kota ini merupakan sebuah kota paling ujung timur-utara dari Pulau sumatera yang sekarang menjadi ibu kota daerah Istimewa Aceh.


Catatan sejarah Liang abad V dari Cina menyebutkan bahwa sudah ada kerajaan Budha di tempat ini (Aceh). Abad VII dan VIII diperkirakan para pedagang dari India, memperkenalkan agama hindu, dan pada abad ke IX Islam masuk pertama kali yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia melalui Lhoksumawe. Ketika Markopolo mengunjungi Aceh dalam perjalanannya ke Cina pada tahun 1292, ia menulis bahwa disana (Aceh) ada kesultanan Muslim, terdapat Pula kesultanan kecil seperti Perlak, Bonua, Lingga dan Pidie yang kemudian sedikit demi sedikit menjadi satu kesultanan terpusat dengan Aceh Besar yang sekarang menjadi Banda Aceh. Sejak tahun 1507 terbentuk garis panjang silsilah kesultanan Aceh, terkahir Tuanku Muhammad Dawot, menyerah kepada Belanda pada tahun 1903.

masjid baiturahman sebelum d renovasi


Selama abad ke XVI dan XVII, Belanda-Aceh menjadi pusat perdagangan internasional penting sehingga terbentuk permukiman India, Arab, Persia dan Turki. Pada abad XVIII, di bawah pimpinan Sultan Iskandar, Aceh mencapai jaman keemasan, hingga menjalin hubungan diplomatic dengan Istanbul dan Inggris.

Sultan Iskandar Muda, pada tahun 1024 Hijriah atau tahun 1614 Masehi mendirikan sebuah masjid kerajaan, namun pada masa Sultan Nurul Alam (1657-1678) masjid tersebut terbakar. Masjid tersebut mempunyai nama dimana masjid itu di bangun, yaitu Masjid Kuta Raja, masjid itu terbakar karena dihancurkan oleh Belanda pada perang yang berlangsung pada 9 Desember 1873 sampai 6 januari 1874. Dalam kunjungan ke Aceh, gubernur Jenderal J.W. van Lansberge berjanji kepada masyarakat aceh, bahwa ia akan membangun masjid agung yang baru.

Arsitek perancang masjid adalah seorang Kapten Zeni angkatan darat (Genie Marechausse) de bruijin, berkonsultasi dengan Snouck hurgronje dan penghulu masjid Bandung. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 9 oktober 1879 oleh Tenku malikul Adil yang disaksikan oleh pembesar Belanda gubernur Jenderal J.W. van Lansberge. Masjid tersebut secara resmi dibuka pada 27 Desember 1881.

Hasil rancangan kapten Zeni Angkatan daran de bruijn berupa sebuah masjid bercorak eklektisme atau campuran dari berbagai unsure yang dianggap baik yang kemudian dipadukan dalam satu bentuk. Masjid ini terletak di sebuah lapangan terbuka sehingga membuatnya terlihat monumental dan megah dan secara keseluruhan dapat terlihat dari jauh. Di depan masjid atau di sebelah timur masjid terdapat sebuah gerbang masuk menempel dengan unit pertama (porch). Porch berdenah segi empat pangjang yang dikelilingi dari samping kiri dan kanan (dalam posisi U) oleh tangga masuk yang cukup tinggi. Pada ujung tangga depan terdapat tiga bukaan dibentuk oleh empat kolom langsing silindris model arsitektur Moorish yang banyak terdapat pada masjid-masjid kuno di Afrika utara dan Spanyol. Ada tiga pelengkung patah model Persia yang masing-masing berada di atas. Bidang di atas dan di sisi pelengkung dihias dengan relief lengkung-lengkung seperti corak Arabesque. Pada sisi dan kanan Porch juga mempunyai konstruksi kolom yang pelengkung dan dekorasinya sama dengan yang di depan, namun hanya terdapat satu pelengkung di atas dua kolom. Di atas ketiga pelengkung terdapat semacam tympanum, namun bentuknya bukan segi tiga, berjenajang sepeti penampang sebuah tangga. Konstruksi seperti ini merupakan cirri bagian depan rumah klasik Belanda, namun disini kemiringannya tidak tajam. Pada setiap jenjang dihias dengan miniatyr dari sebuah gardu atau cungkup puncaknya dihias dengan kubah bawang, sangat khas India, yang di tengah terlihat lebih besar. Bidang depan bagian ini dihias dengan garis silang seperti intricate, namun sederhana, dan di tengahnya terdapat jam. Setelah melalui porch ada lagi pelengkung dan kolom sama dengan yang ada di depan, tanpa pintu seperti kebanyakan masjid kuno di india, langsung masuk ke ruang sembahyang utama. Bagian tengah ruang sembahyang yang berdenah bujur sangkar di atapi dengan kubah utama yang indah dan megah model bawang mirip dengan masjid-masjid kuno India, puncak nya dihias dengan cunduk. Bagian bawah terdapat tritisan berdenah segi delapan yang juga banyak tedapat pada bangunan Kuno di India. Penyangga kubah berdenah segi delapan, pada masing-masing sisinya terdapat sepasang jendela. Ambangnya pelengkung patah. Di anatar kubah dan tritisan terdapat hiasan berderet coraknya geometris. Di luar jendela atas terdapat teras dengan balustradenya yang berfunhsi sebagai hiasan. Di kiri kanan ruang sembahyang utama berupa unit sayap kembar membuat bangunan ini simetris, menyatu dengan yang tengah, atapnya limas an berlapis dua. Aspek Moorish terlihat kmbali pada jendela dengan hiasan berpola intricate.


masjid baiturahman setelah di renovasi

Setelah pembangunan pertama hasil rancangan seorang Kapten Zeni kemudian masjid ini diberi nama Masjid Baiturahman yang kemudian mengalami beberapa penambahan dan perluasan.

Antara tahun 1935 dan 1936 atas usaha Gubernur jendral A.P.H Van Aken, sayap kiri dan kanan atapnya di tambah dengan kubah sehingga jumlah kubah menjadi 3 buah. Pada jaman kemerdekaan tahun 1957, di tambah dua unit kembar masing-masing pada ujung kiri-kanan atau utara-selatan dari sayap, bentuknya identik dengan unit yang berada di tengah termasuk porch, kolom, pelengkung, ornament dan kubahnya. Dengan demikian kubahnya menjadi 5 buah dengan pandangan depan yang simetris. Di buat dua buah minaret kembar masing-masing pada sudut barat-utara dan barat-selatan, penampang inaret segi delapan, bentuk atapnya di buat sama dengan kubah utama di depan.

Penambhan unuit, bagian dan lain-lain tetap mengacu pada elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya dari masjid ini, sangat baik karena dapat dipertahankan arsitekturnya.



NEXT : MASJID AL MASHUN (1906-1909) / MASJID AGUNG MEDAN

PREF :

  1. MASJID PENYENGAT (1899) TANJUNG PINANG RIAU

  2. MASJID LUBUK BAUK, SUMATERA BARAT

  3. MASJID RAO-RAO (1918) BATUSANGKAR

  4. MASJID JAMI TALUK, BUKIT TINGGI (1860) SUMATERA




NEXT : MASJID BAITURAHMAN (1881), BANDA ACEH.

PREF : MASJID LUBUK BAUK, SUMATERA BARAT.




ARSITEKTUR MASJID KUNO BERSEJARAH

MASJID PENYENGAT (1899) TANJUNG PINANG, RIAU

Penyengat adalah sebuah pulau kecil sekitar 2x1 KM persegi luasnya, terletak sekitar 2 KM di seberang tanjung Pinang. Di pulau ini terdapat peninggalan sejarah kesultanan Melayu hingga yang masih berdiri hingga sekarang, peninggaln tersebut berupa masjid yang diberi nama sesuai dengan nama pulau letak masjid ini didirikan yaitu Masjid Penyengat. Hingga abad XIX, pulau penyengat menjadi pusat kebudayaan di wilayah Riau, terutama dalam bidang sastra. Tidak sedikit penyair Melayu terkenal berasal dari sana, antara lain Raja Ali Haji yang terkenal dengan salah satu syairnya Gurindam Duabelas.

Masjid Penyengat didirikan pada tahun 1832, dan didirikan oleh Yang dipertuan Raja Jaafar (1806-1882). Bukti sejarah lainnya banyak terdapat di pulau ini baik berupa bekas istana maupun makam yang hingga sekarang masih dirawat dengan baik oleh penduduk setempat.

Berdasarkan cerita turun temurun, konon arsitek perancang Masjid Penyengat adalah seorang keturunan India yang bermukim di Singapura yang tidak jauh dari Pulau Penyengat. Menurut cerita rakyat, penduduk banyak membantu pembangunan masjid termasuk memberikan makan pada para tukang. Konon pada waktu itu telur mudah di dapat disana, sehingga digunakan untuk campuran perekat pada konstruksi masjid. Warna masjid yang dominan adalah warna kuning, warna keemasan. Dalam tradisi Melayu biasanya warna keemasan diapakai untuk segala sesuatu berkaitan dengan kerajaan atau kesultanan.

Masjid terletak di sebuah pelatarn, mungkin dulu tanah masjid Penyengat ini merupakan bukit yang diratakan. Tinggi tanahnya sekitar 3 meter dari permukaan jalan, untuk naik dibuat tangga yang cukup tinggi. Luas lahan Masjid Penyengat sendiri adalah 55x33 M persegi. Di dalam masjid terdiri dari unit-unit yang terpisah yang masing-masing dalam posisi simetris, bila di tarik garis tengah dari tangga naik hingga mighrab. Setelah melalui tangga yang cukup tinggi tadi di halaman sebelah kiri dan kanan atau di utara selatan jalan setapak di sumbu tengah tersebut, masing-masing terdapat unit berdinding beratap limas an batu. Kedua unit kembar disebut dalam bahasa setempat sotoh yang digunakan sebagai tempat bermusyawarah majelis ta'lim diantara ulama dan cendikiawan. Selain itu terdapat juga unit kembar yang masing-masing bersumbu segi empat panjang, sisi terpanjangnya searah dengan kiblat, kedua unit ini terlihat eperti gardu tetapi besar dan panjang, tak berdinding, mempunyai kolong, yang berkonstruksi kayu. Dalam istana-istana di Jawa dalam bentuk yang lebih besar, unit semaam itu disebut dengan Paseban, yang berfungsi sebagai ruang tunggu tamu raja, pada Masjid Penyengat mungkin selain digunakan untuk istirahat, pertemuan kecil juga berfungsi sebagai surau untuk belajar mengaji.

Setelah melalui unit-unit kembar tersebut, jalan setapak yang terdapat dalam satu garis dengan kiblat langsung berhadapan dengan pintu masuk masjid. Pintu utama masjid Penyengat terdapat di tengah berada di dalam unit menjorok ke depan (porch), dalam arsitektur jawa disebut kuncung, diatapi kubah. Disudut-sudutnya terdapat pilaster. Unit utama menyatu dengan porch, berdenah segi empat panjang 29,30x19,50 M persegi, sejajar dengan arah kiblat sisi terpendek. Denah dan semua elemen-elemen yang ada pada masjid dalam susunan simetris. Atap unit ruang sembahyang utama sangat unik, dapat dipastikan mendapat inspirasi dari masjid-masjid di India yang merupakan asal dari arsiteknya, berupa deretan melintang dan membujur dari kubah-kubah, bentuk kubah berupa bawang, ke arah membujur atau arah kiblat berbaris empat, ke arah melintang berderet tiga sehingga semua kubah jumlahnya 12, di tambah dengan kubah di atas porch menjadi 13 buah. Masjid mempunyai empat buah Minaret, masing-masing pada sudut unit ruang sembahyang. Bentuk keempatnya terlihat sama, namun ada sedikit perbedaan, dua yang di depan penggapit porch berdenah lingkaran, dua yang lainnya mengapit dinding kiblat yang berpenampang segi delapan. Pada puncak masing-masing minaret ditutup dengan atap berbentuk kerucut bersisi delapan yang sangat runcing seperti pensil, sangat jelas bahwa bentuk kesemua minaret itu mengambil bentuk minaret model Turki, namun dalam hal ini gemuk atau tidak langsing. Dalam hal ini jumlah kubah dalam Masjid Penyengat adalah (13) di tambah jumlah minaret !4) jadi jumlahnya (17) jumlah tersebut melambangkan jumlah rakaat sholat fardhu.

Hiasan pada masjid tidak terlalu ramai, hanya berupa garis-garis cornice antara lain pada bagian atas dan bawah dinding dan penyangga balkon melingkar dari minaret.

NEXT : MASJID BAITURAHMAN (1881), BANDA ACEH.

PREF :

  1. MASJID LUBUK BAUK, SUMATERA BARAT.

  2. MASJID RAO-RAO (1918) BATUSANGKAR.

  3. MASJID JAMI TALUK, BUKIT TINGGI (1860) SUMATERA.




NEXT : MASJID PENYENGAT (1899) TANJUNG PINANG RIAU.

PREF : MASJID RAO-RAO (1918) BATUSANGKAR




ARSITEKTUR MASJID KUNO BERSEJARAH

MASJID LUBUK BAUK, SUMATERA BARAT

Lubuk Bauk merupakan nama sebuah kecamatan yang bertetangga dengan Rao-Rao, di tempat tersebut terdapat sebuah masjid, nama masjid tersebut mengikuti nama desa dimana masjid itu berdiri, yaitu Masjid Lubuk Bauk. Tahun didirikannya tidak diketahui secara pasti, kemungkinan besar didirikan pada abad XIX atau awal abad XX.

Arsitektur Masjid Lubuk Bauk sangat spektakuler, unik kemungkinan besar tidak ada yang menyamainya baik di Sumatera Barat maupun di lain tempat. Aliran arsitekturnya sangat jelas disini yaitu Vernacular.

  • Vernacula adalah istilah dalam teori bahasa yang artinya "bahasa setempat" sebelum mendapat pengaruh dari luar. Dalam arsitektur istilah tradisional dipakai untuk bangunan yang asli setempat, misalnya rumah, lumbung, pemujaan, dll. Arsitektur masjid bukanlah unsure asli dan dibangun berdasarkan tradisi, di Minang namun pengaruh dari luar. Karena mambangun masjid dengan memakai elemen konstruksi rumah adat, maka di sini disebut arsitektur Vernakuler karena kurang tepat disebut tradisional. (izy_prasetya)

Gaya arsitektur yang terlihat mulai dari corak, bentuk, konstruksi, bahan hingga dekorasi dan detail setempat.

Di depan masjid Lubuk Bauk terdapat kolam cukup luas, berfungsi majemuk : untuk wudhu, memelihara ikan yang hasilnya untuk pemeliharaan masjid dan kegitan sosial lain, selain itu juga sebagai unsure penyejuk lingkungan. Telah disebutkan di dalam blog ini kolam semacam ini di dalam bahasa setempat disebut Luhak. Denah masjid ini berbentuk bujur sangkar, konstruksi dari kayu. Masjid Lubuk Bauk ini terdiri dari 3 lantai : lantai bawah berupa kolong elemen yang selalu ada dalam rumah adat minang, lantai pertama adalah ruang sembahyang dan lantai tiga untuk surau, susunan itu Seperti masjid lain yang ada di Sumatera barat yang didirikan pada masa tersebut, dan bahkan konstruksi modern hingga saat ini, bentuk atap masjid sangat khas model minang, mencuat ke atas berkemiringan tajam.

Di antara atap lantai satu dan lantai dua terdapat blustrade dan jendela. Di atas atap dari lantai dua yang berbentuk pyramidal, dihias dengan mahkota berupa atap berdenah silang, kemiringan sangat tajam ke empat arah dan meruncing pada ujung-ujungnya, khas atap model minang. Di atas mahkota ini ada lagi elemen berupa semacam gardu, berdenah segi delapan, pada sisi-sisnya berjendela kaca. Unit yang unik di puncak dan tengah atap ini berfungsi sebagai minaret (menara), untuk naik terdapat tangga spiral di dalam. Atap minaret pyramidal sesuai dengan denahnya bersisi delapan, pada puncaknya dihiasi dengan cunduk sangat tinggi dan indah, dihias dengan lempengan-lempengan, bola, kelopak daun mirip padmanba pada bangunan Hindu.


NEXT : MASJID PENYENGAT (1899) TANJUNG PINANG RIAU.

PREF :

  1. MASJID RAO-RAO (1918) BATUSANGKAR

  2. MASJID JAMI TALUK, BUKIT TINGGI SUMATERA




29 June 2010

NEXT : MASJID LUBUK BAUK, SUMATRA BARAT

PREF : MASJID JAMI TALUK, BUKIT TINGGI DI SUMATRA



ARSITEKTUR MASJID KUNO BERSEJARAH

MASJID RAO-RAO (1918) di BATUSANGKAR


Batusangkar sebuah kota yang terletak sekitar 100Km di utara kota Padang, di kota Batusangkar ini terletak sebuah masjid bersejarah yang memiliki nama Masjid Rao-Rao (diambil dari nama desa letak masjid ini berdiri). Masjid ini di bangun secara bergotong royong pada tahun 1918 oleh empat kelompok suku di Sumatra Barat, empat suku tersebut diantaranya :

  1. Suku Petapang koto Anyear.

  2. Bendang Mandahiling.

  3. Bodi Caniago.

  4. Koto Piliang.

Arsitektur masjid ini bersifat Vernacular artinya memakai bentuk-bentuk setempat, seperti hal nya Masjid taluk di bukit tinggi. Arsitektur yang bersifat Vernacular tersebut terlihat dari hiasan masjid, juga pada desain atap nya yang sangat miring. Pada puncak masjid yang berbentuk pyramidal empat tingkat (dalam bahasa setempat disebut berundak empat) dihias dengan miniature rumah gadang yaitu rumah adat minang dengan atap majemuk runcing mencuat di ujung-ujung atap tersebut. Selain Vernacular, simbolisme dari masjid ini juga cukup menonjol antara lain pada atapnya yang bertumpuk empat, melambangkan keempat kelompok suku yang membangun bersama. Atap minaret (menara) juga hampir sama dengan yang ada di Masjid Taluk, model india beratap kubah kecil bentuk bawang dengan tritisan berdenah segi delapan. Di luar itu dari segi ukuran dekorasi dan lain-lain berbeda dengan Minaret masjid Taluk. Namun cukup menarik dikemukakan disini, bahwa posisi minaret terletak di tengah dalam satu garis sumbu dengan mihrab, posisi ini sama dengan posisi masjid-masjid yang ada di Cina dan juga Masjid Taluk. Pengaruh luar yang terdapat pada masjid ini terlihat pada lengkung-lengkung di depan masjid, yang mungkin merupakan tambahan.


NEXT : MASJID LUBUK BAUK, SUMATRA BARAT

PREF : MASJID JAMI TALUK, BUKIT TINGGI DI SUMATRA

NEXT : MASJID RAO-RAO, BATU SANGKAR


ARSITEKTUR MASJID KUNO BERSEJARAH

MASJID JAMI TALUK, BUKIT TINGGI (1860) di SUMATRA


Sebuah masjid yang tidak besar, namun sangat Indah begitulah pertama kali yang akan terkesan di pikiran kita. Masjid tersebut adalah Masjid Taluk, terletak sekitar 5Km dari masjid Gadang kea rah Padang Luar. Masjid ini didirikan pada tahun 1860 oleh Haji Abdul Majid. Masjid ini juga memiliki sebuah kolam seperti yang terdapat di kebanyakan masjid-masjid di wilayah Minang yang disebut Luhak.

Luhak : luhak atau taluk depan mempunyai fungsi majemuk, selain memperindah dan membuat lingkungan sejuk, wudhu, jugamemelihara ikan, yag ketika ikan-ikan tersebut di jual, hasilnya untuk memperindah masjid / perawatan masjid. Namun belakangan, hasil dari Luhak tersebut justru untuk membantu rakyat yang membutuhkan. (Izy_prasetya)

Pada Masjid Jami Taluk ini terdapat tiga buah Luhak, yang paling besar terdapat di pelataran depan masjid, du lainnya di bagian samping kanan atau utara masjid dan di bagian belakang masjid. Luhak yang paling besar di sebut Taluk, yang kemudian nama tersebut digunakan sebagai nama Masjid.

Ruang sembahyang Masjid berdenah bujur sangkar 13x13 M persegi, konstruksi asli Masjid Jami Taluk adalah kayu dan atapnya dari ijuk, seperti Masjid yang ada di Cina dan juga di Jawa yang akan di bahas di dalam blog ini. Masjid Jami Taluk mempunyai serambi yang menjadi peralihan dari luar ke dalam, panjang serambi selebar bagian depan masjid yaitu 13 M dan lebar 3 M. serambi ini meskipun mempunyai bentuk dan posisi yang sama dengan masjid-masjid di Cina dan di Jawa, namun terdapat perbedaan prinsip yaitu berdinding dan berjendela jadi tidak dapat disebut sebagai teras depan atau portico. Aspek arsitektur Masjid Jami Taluk ini adalah tropis. Untuk menghidari kerusakan kayu akibat kelembapan tanah, maka pada tangga masuk ke dalam serambi tidak berada di tengah, melainkan berada kembar di ujung kiri dan kanan.

Atap ruang sembahyang mirip dengan atap joglo di Jawa, namun kemiringan jauh lebih tajam, mungkin hal ini ada kaitannya dengan tradisi Minang yang kebanyakan atapnya berujung runcing. Bentuk atap pyramidal mengikuti denah yang bujur sangkar, terdiri dari tiga bagian, di antara setiap bagian terdapat celah dimana terdapat jendela atas untuk ventilasi. Selain membuat bentuk masjid semakin megah (menjulang tinggi, sehingga dapat terlihat dari berbagai arah) juga membuat Masjid Jami Taluk ini menjadi landmark di kawasannya. Kemiringan semacam ini sangat cocok untuk bangunan di wilayah tropis antara lain dalam hal mengalirkan air hujan.

Minaret (menara) masjid Jami Taluk ini sangat Indah penuh hiasan, hiasan yang paling dominan adalah Arabesque. Posisi minaret berada di depan-tengah dalam satu sumbu dengan mihrab. Meskipun bentuknya sama sekali berbeda dengan kebanyakan masjid di Cina, namun menarik di kemukakan disini, bahwa posisi semacam itu juga terdapat pada masjid-masjid kuno di Cina. Minaret terdiri dari tiga bagian, paling bawah berdenah segi delapan, pada masing-masing dinding dihias dengan pelengkung patah mati model Persia. Bagian kedua denahnya lingkaran semakin ke atas semakin mengecil, bagain ke dua ini penuh dengan hiasan kaligrafi dan Arabesque. Diantara bagian bawah dengan bagian di atasnya terdapat balkon keliling dalam posisi seperti cincin, antara bagian ke dua dengan bagian paling atas juga terdapat balkon. Bagian teratas tidak berdinding seperti cungkup, denahnya segi delapan, atapnya seperti atap yang terdapat pada kebanyakan Minaret masjid-masjid Kuno di India. Bertutup kubah bawang dan mempunyai tritisan berdenah segi delapan, bedanya disini sangat runcing. Mungkin disesuaikan dengan konstruksi adat Minang yang menyukai bentuk runcing kususnya pada bagian atap. Di kiri, kanan atau di utara dan selatan masjid terdapat unit-unit lateral, mungkin digunakan untuk madrasah atau surau. Disebelah utara di antara unit lateral dengan unit sembahyang terdapat bangaunan aslinya, beratap ijuk juga, runcing seperti tanduk pada ujung-ujungnya yang kemungkinan digunakan sebagai lumbung. Adanya lumbung, kolam ikan, surau yang menyatu dalam kompleks masjid memperlihatkan kaitan erat antara agama dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya.


NEXT : MASJID RAO-RAO, BATU SANGKAR