BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dalam menghadapi suatu proses perubahan untuk menjadikan diri semakin baik dan mengalami prerubahan, merupakan hal yang membutuhkan proses yang berkelanjutan dari rangkaian tahapan yang harus dilalui. Hal yang paling mendasar yang ingindilakukan ialah perkembangan, dimana hal itu merupakan hal yang terpenting untuk melakukan perubahan, perkembangbiakan, dll. Guna menghadapi proses di kehidupan ini, baik itu formal maupun informal. Perkembagan itu sendiri nantinya dapat membantu mempercepat cita-cita yang diharapkan bagi makhluk hidup, terutama manusia yaitu untuk memahami dan menghadapi perkembangan kehidupan secara berkelanjutan.
Dengan adanya perkembangan tersebut, mampu membuat manusia semakin mengerti apa makna hidup sebenarnya, dan semuanyaa itu tidak bisa dilakukan dengan melewati tahapan-tahapan yang sudah ditentukan, karena baik dan tidaknya tingkat perkembangan seseorang, tergantung pada individu dan peranan pendukungnya (keluarga, sekolah, lingkungan). Sehingga nantinya dengan hal adanya hal tersebut, perkembangan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menyeluruh. Oleh sebab itu, untuk mengkaji perkembangan itu sendiri secara menyeluruh. Maka, kami ingin membahasnya dalam makalah kami yang berjudul ”Memahami Prinsip – Prinsip Perkembangan Secara Hakiki”
1.2.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
a) Apakah pengertian dari perkembangan?
b) Bagaimana penjelasan prinsip-prinsip perkembangan?
c) Bagaimana implikasi perkembangan bagi pendidikan?
1.3.Tujuan Penulisan

Dari rumusan masalah diatas, dapat diperoleh tujuan penulisan sebagai berikut:
a) Untuk memahami pengertian dari perkembangan
b) Untuk menjelaskan dan mendeskripsikan prinsip-prinsip perkembangan
c) Untuk mengetahui implikasi perkembangan bagi pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Perkembangan
Jika kita memperhatikan sesuatu yang ada di sekitar kita, baik kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, maupun benda-benda an-organik semua akan mengalami perubahan. Segala sesuatu berubah entah itu secara cepat atau lambat baik berupa pertumbuhan maupun perkembangan. Di antara pertumbuhan dan perkembangan terdapat perbedaan. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Sedangkan perkembangan berkaitan dengan kualitatif dan kuantitatif.
Terdapat berbagai macam definisi yang berkaitan dengan perkembangan. Perkembangan adalah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada kualitas fungsi organ-organ jasmaniah dan bukan pada organ jasmani tersebut sehingga penekanan arti perkembangan terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang termanifestasi pada kemampuan organ fisiologis. Proses perkembangan akan berlangsung sepanjang kehidupan manusia, sedangkan proses pertumbuhan seringkali akan berhenti jika seorang telah mencapai kematangan fisik. (Hartinah, 2008: 24). Perkembangan menunjuk pada perubahan-perubahan dalam bentuk atau bagian tubuh dan integrasi pelbagai bagiannya ke dalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan itu berlangsung. Tersimpul dari statemen itu bahwa pertumbuhan dapat diukur sedangkan perkembangan dapat diamati gejala-gejalanya yaitu perubahan-perubahan dan adanya integrasi. Perkembangan dipersyarati oleh adanya pertumbuhan., ringkasnya kedua istilah itu saling berhubungan satu sama lainnya (Mappiare,1982: 42)
Perkembangan (development) adalah pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan suatu perubahan yang berlanjut sepanjang rentang hidup (Santrock, 2007: 7). Perkembangan merupakan suatu perubahan dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif melainkan kualitatif (Mustaqim, 1991: 3). Perkembangan dapat didefinisikan sebagai perubahan bentuk fisik, struktur, syaraf, perilaku dan sifat yang terbentuk secara teratur dan berlangsung terus (Mussen dkk, 1984: 7). Pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kea rah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali (F.J.Monks dkk, 2006: 1). Perkembangan dapat diartikan sebagai proses berlangsungnya perubahan-perubahan dalam diri seseorang yang membawa penyempurnaan dalam kepribadiannya (W.S.Winkel, 2005: 14). Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Pengertian lain dari perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaan atau kematangan (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (Jasmaniah) maupun psikis (rohaniah). (Yusuf, 2006: 15). Menurut Reni, “perkembangan secara luas menunjukkan pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki dalam individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan cirri-ciri yang baru”. (Desmita, 2005: 4)
Perkembangan menunjuk pada perubahan yang progresif dalam organism, bukan saja perubahan dalam segi fisik (jasmaniah) melainkan juga dalam segi fungsi misalnya kekuatan dan koordinasi (Hamalik, 2004: 84). Karena perkembangan merupakan proses kreatif dalam arti bahwa individu memilih aspek-aspek lingkungan dan terhadap lingkungan itu ia harus member respon. Singgih berpendapat bahwa perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. Istilah perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenaigejala-gejala yang menampak (Sunarto dkk, 2002: 39). Pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali (Rahayu, 2006: 1)
Segala sesuatu mengalami perubahan, tidak ada satupun yang abadi. Begitu pula dengan kehidupan manusia yang berasal dari sel telur kemudian mengalami pembuahan sehingga menjadi janin, bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, orang tua dan akhirnya meninggal. Perkembangan itupun selalu terjadi secara bertahap dan tidak dapat kembali ke bentuk sebelumnya. Setiap anak membawa variasi perkembangannya sendiri-sendiri, tidak ada satupun yang sama. Tujuan perkembangan adalah pencapaian kemampuan yaitu upaya menjadi orang baik secara mental dan fisik. Hal itu merupakan dorongan untuk melakukan apa saja yang sesuai dengan dirinya.
Kesimpualan umum yang dapat ditarik dari beberapa definisi diatas, bahwa perkembangan tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dan fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan dan belajar.
Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan cirri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk atau tahap ke bentuk atau tahap berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian.
2.2. Prinsip-prinsip Perkembangan
a) Perkembangan melibatkan perubahan.
Perubahan tersebut merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan karena perubahan itu sendiri telah memberikan kontribusi lebih dalam pengaplikasian dan proses perkembangan, perubahan itu sendiri termasuk di dalam perkembangan yang nantinya beriringan dan bertalian erat satu sama lain.
Banyak orang menggunakan istilah pertumbuhan dan perkembangan secara bergantian. Dalam kenyataan kedua istilah itu berbeda, walaupun dapat dipisahkan, namun keduanya tidak berdiri sendiri. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Tidak saja anak itu menjadi lebih besar secara fisik, tetapi ukuran dan struktur organ dalam dan otak meningkat. Akibat adanya pertumbuhan otak, anak itu mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk belajar, mengingat, dan berpikir. Anak tumbuh, baik secara mental maupun fisik.
Sebaliknya perkembangan, berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif ia dapat didefinisakan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. Progresif menandai bahwa perubahannya terarah, membimbing mereka maju dan bukan mundur. Teratur dan Koheren menunjukan adanya hubungan nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau yang akan mengikutinya. Neugarten telah menerangkan bagaimana perubahan dalam perkembangan mempengaruhi orang dengan bertambahnya usia mereka :
Orang bertambah, menjadi baik atau buruk, karena bertambahnya pengalaman. Dengan disimpannya kejadian dalam organism, individu tanpa kecuali mengambil sari dari bekas-bekas pengalaman itu dan menciptakan kategori yang lebih rumit dan jelas untuk menafsirkan kejadian baru. System pengisian mental tidak saja tumbuh lebih besar, tapi juga diolah kembali kemudian, dengan banyak acuan. Orang dewasa bukan saja lebih rumit dari pada anak-anak, tetapi mereka juga berbeda satu sama lain, dan perbedaannya semakin bertambahnya usia mereka sampai berusia lanjut.
Tujuan Perubahan Perkembangan
Tujuan perubahan perkembangan ialah realisasi diri atau pencapaian kemampuan genetik. Maslow menamakannya “aktualisasi-diri” (self actualization) yaitu upaya untuk menjadi orang terbaik secara fisik dan mental. Ini merupakan dorongan untuk melakukan apa saja yang sesuai bagiannya. Untuk merasa bahagia dan puas, orang harus diberikan kesempatan untuk memenuhi dorongan tersebut.
Namun, apakah orang itu akan mencapai tujuan itu atau tidak tergantung pada hambatan yang dihadapinya dan bagaimana ia berhasil menanggulanginya. Hambatan itu mungkin berupa lingkungan, misalnya berkembang dalam lingkungan dimana anak-anak kehilangan kesempatan belajar dan budaya yang tidak menunjang atau dari diri sendiri seperti rasa takut untuk mencoba melakukan apa yang mereka rasakan mampu karena kritik masyarakat. Banyak anak yang kreatif gagal mencapai puncak kemampuan kreatifitasnya karena kritik masyarakat yang dini terhadap upayanya yang kreatif itu.
Jenis Perubahan Dalam Perkembangan
Manusia tidak pernah statis. Dari saat pembuahan hingga kematian, manusia mengalami perubahan.piaget telah mengatakan bahwa struktur berada jauh dari keadaan statis dan yang diberikan sejak awal mula. Ia melanjutkan bahwa, suatu organism yang menjadi matang bukan statis melainkan mengalami perubahan yang progresif dan berkesinambungan sebagai tanggapan terhadap kondisi pengalaman dan perubahan ini menghasilkan suatu jaringan interaksi yang rumit.
Pada setiap usia, beberapa perubahan yang terjadi selama proses perkembangan baru dimulai, beberapa diantaranya berada di titik puncak, dan beberapa dalam proses menurun. Meskipun beberapa perubahan yang terjadi dalam perkembangan berlawanan dalam arti bahwa perubahan itu saling bertentangan, yang lain saling berkaitan. Dua proses antagonitik terjadi secara bersamaan – pertumbuhan atau evolusi dan atrofi (pembuangan) atau involusi. Pada tahun-tahun awal kehidupan, pertumbuhan menonjol, walaupun perubahan atrofi terjadi sejak lahir. Pada kehidupan selanjutnya, yang terjadi adalah kebalikannya.
Perubahan yang saling berkaitan dalam dilihat dalam perubahan ukuran dan proporsi. Misalnya peningkatan ukuran tubuh disertai dengan perubahan komposisi tubuh. Pertambahan berat di masa bayi telah diketahui bukan berasal dari peningkatan jaringan lemak saja, tetapi juga dari peningkatan jarigan saraf, tulang dan kelenjar. Di masa kanak-kanak pertambahan berat pada dasarnya berasal dari jaringan tulang dan otot. Di masa dewasa, pertambahan berat timbul dari penimbunan jaringan lemak.
Perubahan yang saling berkaitan juga tampak dalam karakteristik mental seorang anak. Sebagai contoh, emosi anak kecil tidak ada gradiasi; ledakan amarah yang hebat mungkin tidak berkaitan dengan intensitas situasi frustrasi. Dengan meningkatnya kecerdasan dan pengalaman, anak mampi mengendalikan reaksi amarah untuk memenuhi standar yang disetujui oleh kelompok masyarakat tertentu.
Hilangnya ciri lama disebabkan bila ciri fisik tertentu, misalnya kelenjar thymus setelah pubertas dan rambut serta gigi bayi, kehilangan kegunaannya, ciri itu secara bertahap mengalami atrofi, seperti halnya beberapa ciri bawaan psikologis dan perilaku – misalnya gerak dan bicara bayi serta imajinasi yang sangat luas. Sedangkan cara untuk mendapatkan ciri baru merupakan beberapa ciri fisik dan mental baru berkembang dari kematangan dan beberapa lainnya berkembang dari hasil belajar dan pengalaman. Ciri fisik yang baru termasuk gigi tetap dan karakteristik jenis kelamin primer dan sekunder cirri mental yang baru termasuk perhatian dalam seks, standar moral, dan keyakinan agama.
Sikap Anak Terhadap Perkembangan.
Ketika proses kedewasaan berlangsung, banyak pria dan wanita yang takut berubah dalam hal-hal tentang, misalnya, berkurangnya penglihatan, penimbunan lemak pada usia menengah yang menunjukan bahwa mereka mulai menjadi tua, atau bertambahnya tanggung jawab dengan bertambahnya usia sebaliknya anak-anak senderung menyambut gembira setiap perubahan karena hal itu mendekatkannya dengan keistimewaan dan kebebasan yang dikaitkan dengan menjadi dewasa.
Untuk sebagian besar sikap anak terhadap perubahan adalah menyenagkan yang tampak dari studi tentang kebahagiaan. Laporan retrospektif di mana orang dewasa melihat kembali kembali atau mencoba mengingat apa yang pernah mereka rasakan mengenai kehidupan dalam berbagai usia, telah menunjukan bahwa ingatan mereka yang luar biasa berkaitan dengan pengalaman pertamanya yang baru, masing-masing merupakan simbol kemajuan kematangan.
Apakah sikap individu anak terhadap perubahan umumnya menyenangkan atau tidak tergantung pada banyak faktor Pertama, kesadaran anak akan perubahan itu. Dengan berkembangnya bayi menjadi lebih otonom, mereka mulai tidak senang di tunggui. Remaja yang sadar akan kejanggalan yang menyertai pertumbuhan cepat yang normal, merasa malu dan sadar akan dirinya seperi sebelumnya, ketika pertumbuhan yang lambat memungkinkan mereka untuk lebih mengendalikan pergerakan tubuhnya dengan baik.
Kedua, bagaimana perubahan mempengaruhi perilaku mereka. Bila perubahan memungkinkan anak-anak menjadi lebih mandiri dari banuan orang dewasa atau bila ia menambah kekuatan dan kecepatan sedemikian rupa hingga mereka dapt mengambil bagian dalam kegiatan permainan yang dilakukan oleh anak yang lebih besar, mereka akan menyambut naik perubahan itu.
Ketiga, sikap sosial terhadap perubahan mempengaruhi anak-anak seperti halnya pada orang dewasa. Kebanyakan irang tua mendorong anaknya untuk menjadi dewasa sesegera mungkin. Ketika anak-anak berbuat sesuai degan harapan orang tua, mereka dipuji, ketika mereka gagal memebuhi harapan itu, mereka dianggap tidak bertindak sesuai dengan usia mereka.
Keempat, sikap sosial dalam kadar tertentu dipengaruhi oleh bagaimana perubahan mempengaruhi penampilan anak. Bayi yang berkembang menjadi anak kecil gigi susunya mulai lepas sehingga menampilkan roman wajah yang lucu atau jelek. Akibatnya, anak itu mungkin kurang di sukai orang dewasa. Bila demikian halnya mereka akan menunjukan sikap itu dalam perlakuan terhadap anak tersebut.
Kelima, sikap budaya mempengaruhi cara orang memperlakukan anak sebagai akibat perubahan dalam penampilan dan perilakunya. Sebagian besar bersikap lebih menyukai bayi daripada anak yang lebih besar. Seperti halnya setiap orang mencintai bayi demikian pula banyak orang merasa takut menghadapi tahap praremaja ketika anak-anak cenderung menjadi sulit, tak acuh, gampang tersinggung, atau sukar untuk bergaul dengannya. Bahkan anak sebaya mungkin menganggap masa praremaja sebagai penyakit menular dan akibatnya persahabtan sering putus. Dalam kondisi seperti itu, hampir tidak mungkin anak-anak akan merasa senang terhadap berbagai perubahan di masa pubertas.
b) Perkembangan awal lebih kritis ketimbang perkembangan selanjutnya.
Perkembagan itu sendiri membutuhkan awal yang baik, dalam artian ketika perkembangan awal itu dilakukan secara kritis, maka dampaknya akan terasa pada perkembangan kedepannya sehingga memberikan gambaran awal atau perspektif baru yang dapat memberikan kontribusi lebih bagi perkembangan itu sendiri.
Jauh sebelum studi ilmiah tentang anak dilakukan, kenyataan yang telah diterima ialah tahun-tahun pertama merupakan saat yang kritis bagi perkembangan anak. Hal ini seperti yang dikatakan oleh peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Dengan cara yang lebih puitis, Milton menyatakan fakta yang sama saat menulis “Masa kanak-kanan meramalkan masa dewasa, sebagaimana pagi hari meramalkan hari baru”.
Petunjuk ilmiah pertama yang penting dari pentingnya tahun-tahun awal berasal dari penelitian Freud tentang kesulitan penyesuaian kepribadian. Kesulitan seperti itu dikatakan Freud dapat dilacak sampai ke suatu pengalaman yang tidak menyenangkan dimasa kanak-kanak. Beberapa penelitian terakhir telah membenarkan Freud. Dalam studi klinis sejak bayi hingga dewasa yang dilakukannya, Erikson menarik kesimpulan bahwa masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia sebagai seorang manusia, tempat dimana kebaikan dan sifat buruk kita yang tertentu dengan lambat, namun jelas berkembang dan mewujudkan dirinya. Selanjutnya dikatakan bahwa masa bayi adalah waktu dari kepercayaan dasar (Basic Trust), individu belajar memandang dunia ini sebagai aman, dapat dipercaya dan mendidik, atau waktu dari Ketidakpercayaan dasar” (Basic Distrust),mindividu belajar memandang dunia sebagai penuh bahaya, tidak dapat diramalkan, dan penuh dengan tipu daya.
Erikson menerangkan, apa yang akan dipelajari seorang anak tergantung pada bagaimana orang tua memenuhi kebutuhan anak akan makanan, perhatian, cinta kasih. Sekali ia belajar, sikap demikian akan mewarnai persepsi individu akan masyarakat dan suasana sepanjang hidup.
Sejarah anak yang mempunyai kesulitan penyesuaian sejak tahun-tahun prasekolah hingga sekolah menengah atau universitas telah menunjukan bahwa banyak diantara meraka sangat buruk penyesuaian dirinya pada masa kecil hingga tidak pernah termasuk dalam suatu kelompok atau mempunyai banyak teman. Sebagai tambahan, banyak diantaranya menderita kesulitan berbicara, sekolah, serta enuritik dan keluarga mereka menganggap sebagai anak yang penuh masalah”. Dari study riwayat kehidupan anak nakal, Glueck menarik kesimpulan bahwa remaja yang berpotensi menjadi nakal dapat diidentifikasikan sedini usia dua atau tiga tahun karena perilaku antisosialnya.
Bertahannya pola awal perilaku telah diperlihatkan oleh study dalam berbagaibidang perkembangan. Dalah hal sikap dan nilai serta dalam kegiatan yang disukai di kala santai, orang hanya sedikit berubah dengan lampaunya waktu, bahkan walaupun terjadi perubahan budaya yang nyata. Studi tentang orang dewasa kreatif telah menunjukan bahwa sebgai anak-anak, mereka menunjukan perhatian dalam permainan imajinatif dan kreatif serta dalam berbagai bentuk ekspresi artistik.
Sama hal nya study kepribadian telah menunjukan bahwa pola awal secara relative tetap tidak berubah dengan berjalannya waktu. Sebagai contoh, lima tahun pengalaman pertama sekolah, seorang anak tersebut periode kritis dalam perkembangan dorongan berekspresi, alasannya adalah seperti dikatakan Sontag dan Kagan bahwa “perilaku untuk berprestasi tinggi pada usia tertentu sangat tinggi hubungannya dengan pencapaian perilaku di masa dewasa. Orang dewasa, yang pada saat anak-anak, takut akan ejekan, hukuman, dan pengalaman yang tidak menyenangkan mempunyai konsep diri yang negative yang ditandai dengan rendah diri yang negative yang ditandai dengan rendah diri. Hasil penelitian seperti itu telah membenarkan kesimpulan Bijou :
Kebanyakan psikolog anak telah mengatakan bahwa tahun-tahun prasekolah, dari usia sekitar dua hingga lima tahun adalah paling penting, kalau tidak yang terpenting, dari seluruh tahapan perkembangan dan suatu analisis fungsional tahapan tersebut jelas menunjukan kesimpulan yang sama. Tidak dipungkiri lagi itulah periode diletakkannya dasar struktur perilaku kompleks yang dibangun sepanjang kehidupan anak.
White setalah bertahun-tahun meneliti anak selama prasekolah, berpendapat bahwa dua tahun pertama penting dalam meletakkan pola untuk menyesuaikan pribadi dan sosial. Menurut pendapatnya “member kehidupan sosial dan kaya bagi anak usia 12 sampai 15 bulan adalah hal terbaik yang dapat dilakukan guna menjamin pikiran yang baik.
Kondisi Mempengaruhi Dasar Awal.
Lingkungan tempat anak hidup selama tahun-tahun pembentukan awal hidupnya mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan bawaan mereka. Dari banyak factor lingkungan, enam hal dapat dipisahkan sebagai sangat penting dan hamper universal pengaruhnya. Karena dasar untuk pola sikap dan perilaku diletakan secara dini, yaitu ketika lingkungan itu hampir terbatas pada rumah dan kontak sosial umumnya terdapat di antara anggota keluaraga, dasar ini “tumbuh dari rumah”.
Bahkan dengan bertambah besarnya anak dan meningktanya waktu yang dihabiskan dengan anggota kelompok teman sebayanya, di lingkungan tempat tinggal dan sekolah, pengaruh rumah pada dasar awal tetap akan tampak nyata. Pada waktu itu, telah terbentuk dasar yang demikian kuat sehingga setiap perubahan yang terjadi akan sedikit pengaruhnya.
Mengapa Dasar Awal Sangat Penting
Dengan meningkatkan bukti yang menunjukan bahwa dasar awal cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dari perilaku anak sepanjang hidupnya, maka lebih jelas lagi mengapa dasar awal sangat penting. Terdapat empat pembuktian yang membenarkan pendapat ini. Pertama, karena hasil belajar dan pengalaman semakin memainkan perandominan dalam perkembangan dengan bertambahnya usia anak, mereka dapat diarahkan kedalam saluran yang membawa kearah penyesuaian yang baik. Pada dasarnya, tugas ini harus ditangani oleh keluarga, walaupun kelompok sosial yang lebih besar dapt member budaya dimana anak-anak dapat memenuhi kemampuannya.
Membiarkan anak tumbuh dan mengerjakan apa yang diinginkannya, jelas tidak adil bagi mereka. Anak sama sekali tidak berpengalaman untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka. Misalnya, bagaimana anak-anak akan mengetahui bahwa kesalahan ucapan dan tata bahasa akan member kean bahwa mereka tidak acuh? Bagaimana mereka dapat mengetahui bahwa agresivitas terhadap teman akan menimbulkan musuh daripada teman?
Bimbingn paling diperlukan dalam tahapan awal belajar pada saat peletakan dasar awal. Bila anak sejak awal telah diletakan diatas rel yang benar dan didorong untuk tetap disana hingga mereka terbiasa dengannya atau menyadari mengapa hal itu paling baik, maka kecil kemungkinannya kelak mereka akan beralih ke rel yang salah.
Kedua, karena dasar awal cepat berkembangmenjadi pola kebiasaan, hal itu akan mempunyai pengaruh sepanjang hidup dalam penyesuaian pribadi dan sosial anak itu beberapa waktu yang lalu, James mengingatkan tentang kebiasaan ini ketika ia berkata “seandainya anak muda menyadari bagaimana cepatnya mereka akan menjadi sekumpulan kebiasaan yang berjalan, mereka akan lebih memperhatikan kelakuan mereka pada saat masih berada dalam tahap plastic”.
Ketiga, bertentangan dengan keyakinan popular, anak-anak tidak melepaskan cirri bawaan yang tidak disukai dengan bertambahnya usia mereka. Sebaliknya sebagaimana ditekankan sebelumnya, pola sikap dan perilaku yang dibentuk pada wal kehidupan, cenderung bertahan tidak jadi soal apakah hal iyu baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan penyesuaian anak.
Keempat, karena adakalanya diinginkan perubahan dalam apa yang diajarkan, semakin cepat perubahan ini dibuat, semakin mudah bagi anak-anak dan akibatnya mereka semakin lebih mau pula bekerja sama dengan mengadakan perubahan itu.
Disamping fakta bahwa dasar awal sulit dirubah, mereka dapat dan seringkli berubah. Terdapat tiga kondisi yang memudahkan perubahan seperti itu. Pertama, bila anak-anak menerima bimbingan dan bantuan dalam mengadakan perubahan, kedua, bila orang-orang tertentu dalam kehidupan mereka memperlakukannya dengan cara berbeda, dan ketiga bila anak-anak sendiri memiliki motifasi yang kuat untuk mengadakan perubahan.
c) Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar
Hal ini lebih disebabkan karena adanya hasil proses kematangan dan belajar membuat perkembangan itu sendiri mampu untuk dijadikan acuan dasar untuk melakukan sebuah proses perkembangan secara bertahap dan menyeluruh. Semua ini didasarkan atas kesadaran pribadi yang ingin merubah dirinya sendiri dan mendapat dukungan dari faktor-faktor pendukung yang ada, demi perkembangan yang akan dilakukannya.
Salah satu kontroversi terua di dunia pengetahuan ialah ikhwal pentingnya keturunan dan lingkungan yang secara relative menentukan karakteristik fisik dan mental anak yang berkembang. Meskipun banyak terdapat perhatian ilmiah dan praktis dalam masalah ini, bukti yang sahih masih jauh dari cukup untuk memecahkannya secara memuaskan. Sebagaimana telah ditemukan dalam Bab 1, belum ditemukan metode yang dapat diterima secara keseluruhan untuk memisahkan pengaruh krturunan dari pengaruh lingkungan. Selalu ada kemungkinan kerusakan psikologis pada anak-anak yang digunakan sebagai subyek percobaan ilmiah.
Berbagai bukti tampaknya menunjukan bahwa cirri perkembangan fisik dan mental sebagain berasal dari proses kematangan intrinsic dari cirri tersebut dan sebagian berasal dari latihan latihan dan usahaindividu yang mana lebih berperan masih tetap merupakan dugaan.
Arti “Kematangan”
Proses kematangan intrinsic adalah terbukanya karakteristik yang secara potensial ada pada individu. Dalam fungsi filogenetik – yaitu fungsi umum ras – misalnya merangkak, duduk, dan berjalan, perkembangan berasal dari proses kematangan. Sesungguhnya latihan hanya memberi sedikit keuntungan. Sebaliknya mengandalkan lingkungan dengan cara mengurangi kesempatan berlatih akan menghalangi perkembangan.
Berbeda hal nya dalam fungsi ontogenetic – fungsi khas untuk individu – naik sepeda, atau menulis diperlukan latihan. Tanpa latihan, perkembangan tidak akan terjadi, kecenderungan yang diariskan tidak dapat matang sepenuhnya tanpa dukungan lingkungan.
Arti Belajar
Belajar adalah perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan. Akan tetapi mereka harus mendapatkan kesempatan untuk belajar. Sebagai contoh seorang anak yang mempunyai tatanan saraf dan otot yang superior, mungkin mempunyai bakat besar untuk melakukan penampilan musical. Akan tetapi, jika tidak ada kesempatan berlatih dan bimbingan yang sistematik, anak itu tidak akan mengembangkan potensi yang diwariskan.
Beberapa proses belajar berasal dari latihan atau tepatnya pengulangan suatu tindakan. Hal ini pada saatnya nanti menimbulkan perubahan dalam perilaku seseorang. Belajar seperti itu dapat terjadi secara imitasi, yaitu ia secara sadar meniru apa yang dilakukan orang lain. Atau identifikasi, yaitu ia berusaha menerima sikap, nilai, motifasi dan perilaku dari orang yang dihormati atau dicintai.
Belajar mungkin berasal dari latihan – kegiatan yang dipilih, diarahkan dan bertujuan. Dalam latihan anak-anak diarahkan perilakuknya oleh orang dewasa atau anak yang lebih besar, yang berusaha membentuk perilaku mereka kedalam pola yang akan membantu kesejahteraan mereka dan diterima dalm kelompok masyarakat.
Interaksi Kematangan dan Belajar
Perkembangan selama periode peralihan (prenatal) terutama berasal dari kematangan dan sangat sedikit bergantung pada kegiatan. Akan tetapi, terdapat bukti bahwa kegiatan janin berkaitan dengan perkembangan kegiatan motorik tertentu pada kehidupan pascalahir (postnatal) awal. Misalnya, bayi yang sangat aktif semasa janin memperoleh kecakapan pada usia yang lebih awal dari pada bayi yang kurang aktif.
Kematangan pascalahir dan belajar sangat erat hubungannya. Masing-masing saling mempengaruhi. Terdapat korelasi yang erat antara perkembangan fisik secara umum dan kemampuan untu memanipulasi bagianbagian tubuh yang telah tumbuh. Jadi, perkembangan tergantung pada interaksi antara warisan yang diturunkan ini dan factor sosial serta budaya lingkungan.
Sejumlah fakta yang nyata dari nilai praktis dan teoristis berasal dari bukti antara hubungan kematangan dan belajar yang ada sekarang. Beberapa fakta ini sangat penting sehingga memerlukan penjelasan lebih lanjut. Terdapat bukti bahwa kematangan memang menimbulkan kendala pada apa yang dapat dilakukan atau menjadikan sesorang. Kendala ini mungkin terjadi bila pengaruh lingkungan selama kehidupan di dalam uterus atau pasca lahir mengurangi potensi genetic bagi perkembangan atau mungkin berasal dari kualitas warisan genetic.
Dalam masa awal psikologi anak, terdapat kecenderungan untuk menerima keyakinan popular bahwa seseorang dapat melakukan atau menjadi apa saja yang diinginkannya, sepanjang ia mau bekerja keras dan diberi kesempatan. Misalnya, J.B Watson mempertahankan pendapat bahwa ia dapat melatih seiap bayi normal untuk menjadi ahli apa saja yang diinginkannya – dokter, ahli hukum, artis, atau bahkan menjadi pengemis dan pencuri – tanpa mempedulikan bakat, kemampuan, kecenderungan, dan ras anak itu. Penekanan pada pengaruh belajar secara dini ini secara berangsur telah ditinggalkan. Studi kecerdasan, keterampilan, dan perkembangan, fisik telah mengungkapkan perbedaan kemampuan yag umumnya kebal dari pengaruh lingkungan. Ketidakmampuan untuk mendidik anak yang terbelakang mentalnya sebagaimana anak normal merupakan gambaran praktis dari kendala efek keturunan.
Kehilangan kesempatan belajar yang disebabkan oleh kemiskinan, penolakan orang tua, pelembagaan, atau kondisi lainnya, akan menghalangi pekembangan potensi keturunan mereka. Ini terutama benar dalam perkembangan kecerdasan. Studi pada anak-anak yang dilembagakan telah mengungkapkan fakta bahwa hilangnya pengaruh lingkungan mempengaruhi kemampuan mereka berkonseptualisasi sehingga menghasilkan perbendaharaan kata yang terbatas dan menyebabkan mereka terganggu sampai pada kadar tertentu, dimana mereka tidak mampu memadukan pengalaman mereka.
Sebaliknya, rangsangan mendorong perkembangan potensi yang diwarisi. Ini terutama penting selama bulan-bulan awal kehidupan sebelum bayi dapat berjalan dan melakukan sesuatu sendiri. Bahkan ketika anak bertambah besar, meraka memerlukan rangsangan lingkungan untuk menyiapkannya dan responsive secara fisik dan mental. Semakin ia sering diajak bercakap-cakap semakin cepat dan baik kemampuan mereka berbicara dan semakin luas kosa katanya.
Meskipun ragsangan terhadap perkembangan potensi yang diwarisi biasanya timbul dari lingkungan, hal ini mungkin juga bersal dari dalam. Misalnya, ketika anak menetapkan tujuan bagi dirinya sendiri, mereka akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuan tersebut. Ini seringkali berarti bahwa mereka akan mengolah seluruh sumber yang ada padanya dan menggunakannya semaksimal mungkin, terutama bila tujuannya sangta tinggi. Rangsangan dari dalam diri sama besarnya dengan rangsangan dari luar, walaupun yang pertama kurang lazim pada masa awal kanak-kanak dari pada yang kedua. Hanya setelah mereka belajar betapa pentingnya prestasi dalam masyarakat, barulah mereka termotifasi untuk bercita-cita tinggi.
Pentingnya kesediaan belajar
Betapapun banyaknya rangsangan yang diterima anak, mereka tidak dapt belajar sampai perkembangan mereka siap untuk melakukannya. Ini berarti bahwa dasar fisik dan mental yang perlu harus ada sebelum dapat dibangun kemampuan baru diatasnya. Meskipun struktur dan fungsi di masa kanak-kanak berjalan parallel, struktur sebenarnya mendahului fungsi. Ini benar untuk kecakapan motorik, kecakapan mental dan perilaku seksual.
Bila anak belum siap belajar, upaya mengajar mereka membuang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Hal itu akan menimbulkan perilaku yang justru tidak diinginka, misalnya belajar kebiasaan buruk atau tidak ingin belajar sebalinya, jika anak telah siap untuk belajar, tetapi tidak diizinkan atau didorng untuk melakukannya, maka minat mereka akan hilang. Kemudia ketika para orang tua dan guru memutuskan bahwa telah tiba saatnya untuk belajar, mereka tidak mau lagi berusaha.
Havighurts menamakan matangnya kesiapan sebagai saat untu diajar. Sebagaimana dikatakanya ketika badan sudah matang, masyarakat memintanya, dan dirinya telah siap untuk menerima tugas tertentu, maka saat untuk diajar telah tiba. Usaha pengajaran akan terbuang percuma bila dilakukan sebelumnya dan akan membuahkan hasil yang memuaskan bila dilakukan pada saat yang tepat, ketika tugas memang harus dipelajari.
Untuk meyakinkan gambaran akan kesiapan anak yang akurat, ketiga criteria itu harus diterapkan. Misalnya, minat mungkin sepintas lalu, yang timbul dari keinginan untuk beberapa waktu lamanya, ini merupakan petunjuk kesiapan yang lebih baik daripada minat menggebu yang sekilas berlalu. Tekanan orang tua atau teman sebaya mungkin menyebabkan seorang anak mempertahankan minat cukup lama untuk membenarkan kesimpulan bahwa saat untuk belajar telah tiba. Penerapan criteria ketiga – kemajuan berkat latihan – akan menunjukan bahwa anak belum mencapai titik dimana akan memperoleh keuntungan dari kesempatan belajar bila berukurang minat berlangsung cepat atau anak itu tidak meanmpakkan kemajuan yang cukup, kendati terus berlatih, cukup beralasan untuk mempertanyakan apakah telah tiba saat untuk diajar.
d) Pola perkembangan dapat diramalkan
Pola perkembangan itu sendiri merupakan sesuatu yang harus dilalui, biasanya melalui tahapan-tahapan yang sudah tersedia dalam melakukan perkembangan itu sendiri. Jadi pola perkembangan tersebut dapat diramalkan berdasarkan prosesnya tersebut, agar nantinya adanaya persiapan atau gambaran untuk melakukan perkembangan tersebut.
Setiap spesies, apakah hewan atau manusia mengikuti pola perkembangan yang khas spesies tersebut. Dalam perkembangan pralahir, terdapat rangkaian genetic dengan cirri tertentu yang muncul pada interval tertentu pula. Terdapat urutan pola yangs ama dalam perkembangan pascalahir, walaupun laju perkembangan individu akan lebih bervariasi dalam periode pascalahir daripada pralahir. Studi genetik anak menunjukan bahwa perkembangan perilaku juga mengikuti pola tertentu dan pengaruh pengalaman sedikit sekali.
Beberapa pola yang dapat diramalkan
Dari banyak bukti pola perkembangan fisik yang teratur dan dapat diramalkan smasa kehidupan pra dan pascalahir, terdapat dua hukum rangkaian pengarahan perkembangan: hukum cepbalocaodal dan hukum proximodistal. Menurut hukum capbalocaodal, perkembangan menyebar ke seluruh tubuh dari kepala ke kaki, ini berarti bahwa kemajuan dalam strujtur dan fungsi pertama-tama terjadi dib again kepala, keudian badan, dan terakhir di bagian kaki. Menurut hukum proxymodistal, perkembangan bergerak dari yang dekat ke yang jauh – keluar dari sumbu pusat tubuh menuju keujung-ujungnya, pada janin, kepala dan badan berkembang cukup baik sebelum tonjolan anggota tubuh yang lain, secar5a bertahap, tonjolan lengan memanjang dan kemudian berkembang menjadi tangan dan kaki, secara fungsional, bayi dapat menggunakan tangannya sebagai suatu unit sebelum mereka dapat mengendalikan pergerakan jarinya.
Studi longitudinal mengenal kecerdasan telah mengungkapkan bahwa pola perkembangan mental dapat diramalkan seperti halnya pola perkembangan fisik. Hasil beberapa studi longitudinal meliputi berbagai pangsa (segmen) daur hidup sejak bayi sampai usia 50 tahun menunjukkan bahwa bagian utama dari pertumbuhan mental muncul pada saat bayi berkembang paling cepat, yaitu selama 16 sampai 18 tahun pertama. Juga terdapat pola perkembangan yang dapat diramalkan untuk berbagai fungsi kecerdasan, seperti daya ingat dan penalaran, yang merupakan kecerdasan umumnya. Studi tindak lanjut selama 40 tahun membawa Osen kedalam kesimpulan bahwa “dengan sedikit pengecualian anak yang superior menjadi orang dewasa yang superior…. Penelitian Therman telah menunjukan bahwa sebagian terbesar abak-anak berbakat memamng sesuai dengan kemampuannya.
Studi genetic bayi sejak lahir hingga lima tahun telah menunjukan bahwa semua anak kecil mengikuti pola perilaku umum. Bidang spesifik perkembangan motorik, perilaku emosional, bicara, perilaku sosial, perkembangan konsep, cita-cita, minat. Dan identifikasi terhadap orang lain.
Kondisi Yang mempengaruhi Pola Perkembangan
Pola perkembangan dapat terganggu oleh kondisi lingkungan atau fisik untuk sementara atau permanen. Gangguan ini mungkin berbentuk kelambatan atau meningginya kecepatan terjadinya pola perkembangan yang normal, atau mengubah pola tersebut. Bukti yang diperoleh dari studi Longitudinal menunjukan bahwa jika pola pertumbuhan fisik terganggu oleh kondisi lingkungan, seperti kekurangan gizi, penyakit, musim atau ketegangan emosional yang hebat, akan terdapat suatu periode “mengejar” pertumbuhan setelah kondisi tersebut dihilangkan atau diperbaiki. Kemudian anak akan kembali ke pola semula sebelum terjadinya gangguan .
Pola perkembangan fisik mungkin diubah secara permanen oleh kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan sebelum atau sesudah kelahiran. Sebagai contoh, defisiensi kegiatan belajar yhyroid selama periode pralahir menghalangi pertumbuhan fisik dan mental, sehingga menyebabkan anak cacat yang kredil (retin) atau idiot yang tidak terbentuk. Kekurangan kalsium selama pralahir dan awal pascalahir menyebabkan penyakit rakhitis, dimana tulang tidak mengeras secara normal dengan akibat gigi keropos, dada yang datar, kaki atau punggung bengkok, atau pelvis yang cacat.
Gangguan dalam pola perkembangan mental bila terdapat kondisi yang tidak diharapkan dalam lingkungan pralahir dan pascalahir awal sejelas pola perkembangan fisik. Kekurangan gizi yang berat pada saat ini tidak saja mengakibatkan ukuran keliling kepala yang lebih kecil dan kemampuan kognitif lebih rendah, tetapi juga mempengaruhi kepribadian yang menyebabkan mereka apatis. Bahkan sesudah gizi diperbaiki, telah dilaporkan adanya ketinggalan dalam kemampuan kognitif. Kebutaan sejak lahir menyebabkan bayi dan anak kecil kehilangan rasa ingin tahu yang normal pada saatnya. Hal ini tidak saja karena mereka tidak dapat melihat sesuatu yang baru dan berbeda, tetapi juga karena kegiatan eksplorasi mereka terhalang oleh rasa takut. Kehilangan rasa ingin tahu ii juga mempengaruhi pola perkembangan motorik mereka.
Pola perkembangan mungkin juga terhambat oleh kondisi psikologis. Gangguan emosional yang disebabkan oleh penolakan orang tua, kehilangan orang tua, atau dimasukan kedalam lembaga dapat menghambat pola perkembangan fisik yang dan psikologis. Namun, seperti yang diperingatkan Tulkin, ketinggalan dalam perkembangan dapat disebabkan oleh perbedaan nilai, bukan karena hilangnya lingkungan. Misalnya, budaya yang menghargai kerjasama tidak akan mendorong anak untuk bersaing dan sebaliknya dalam budaya yang menilai tinggi kompetesi mereka mungkin dinilai sebagai kehilangan dan tampak tertinggal dibandingkan dengan teman sebayanya dalam perkembangan sosial.
Rangsangan perkembangan fisik dan mental, sebagaimana yang telah dikembangkan sebelumnya, mempercepat pola perkembangan yang diramalkan. Kesehatan, dorongan dan kesempatan belajar yang baik ditambah dengan motivasi yang kuat dalam diri si anak, akan mempercepat perkembangan di semua bidang.
Pentingnya Meramalkan Perkembangan
Walaupun memerlukan banyak waktu dan sulit untuk menentukan apakah terdapat pola perkembangan yang dapat diramalkan dan factor apa saja yang dapat menggangu pola tersebut, sebagian besar psikolog anak menganggap informasi itu sangat penting. Hal ini tidak saja penting dari sudut teoritis, tetapi juga penting dari sudut praktis. Secara teoritis, informasi demikian penting karena memberikan dasar bagi penelitian perkembangan di berbagai bidang. Sebagai contoh, bila tidak dapat pola perkembangan motorik dan bicara anak yang dapat diramalkan, maka bukannya tidak mungkin untuk merumuskan prinsip-prinsip mengenai bidang perkembangan ini.
e) Pola perkembangan mempunyai karakteristik yang dapat diramalkan
Disamping itu, pola perkembangan juga mempunyai karakteristik yang merupakan ciri khas dari pola perkembangan tersebut, sehingga hal itu dapat diramalkan. Karakteristik itu sendiri nantinya akan menjadikan pola perkembangan menjadi lebih bervariasi dan mudah diterima dalam pelaksanaan perkembangan.
Tidak saja pola perkembangan dapat di ramalkan,tetapi ia juga mempunyai karakteristik yang sama dan dapat di ramalkan.ini berlaku baik untuk perkembangan mental maupun perkembangan fisik.
Persamaan dalam pola perkembangan
Semua anak mengikuti perkembangan yang sama dari satu tahap berikutnya.bayi berdiri sebelum dapat berjalan dan menggambar lingkaran sebelum segi empat.tidak pernah terjadi kebelikan urutan normal tersebut. Selanjutnya pola umum tidak berubah sama sekalipun terdapat variasi individu dalam kecepatan perkembangan.anak-anak yang di lahirkan prematur perkembanganya mungkin tertinggal sekian tahun,tapi setelah itu biasanya dapat mengejar ketertinggalanya,dan selanjutnya mengikuti pola perkembangan mereka pada kecepatan yang kira-kira sama.demikian juga halnya anak yang sangat pandai dan sangat bodoh,mengikuti urutan perkembangan yang sama seperti anak yang memiliki kecerdasan si atas rata-rata.akan tetapi ,mereka yang sangat pandai berkembang dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada mereka yang berkecerdasan rata-rata,sedangkan anak yang bodoh berkembang lebih lambat.
Perkembangan bergerak dari tanggapan yang umum menuju tanggapan khusus. Dalam hal tanggapan mental dan motorik,kegiatan umum selalau mendahului kegiatan khusus.janin bergerak seluruh tubuhnya,tetapi tidak mampu melakukan gerakan khusus.demikian halnya dalam kehidupan pasca lahir awal.bayi melambaikan tanganya secara umum,membuat gerakan acak sebelum mereka mampu memberi tanggapan khusus,seperti menggapai benda yang di letakkan di hadapanya. Hal serupa terjadi pada perilaku emosional bayi yang pertama-tama bereaksi terhadap benda-benda asing yang tidak dikenal dengan rasa takut mereka menjadi lebih khusus dan diperlihatkan melalui berbagi jenis perilaku,misalnya:menagis,membalikkan badan dan sembunyi,atau berdiri dan bersikap seolah-olah tidak merasa takut.
Perkembangan berlangsung secara berkesinambungan
Perkembangan berlangsung pada saat berkesinambungan seja saat pembuahan hingga kematian,tetapi ia terjadi dalam berbagai kecepatan kadang-kadang perlahan dan kadang-kadang cepat.piecowsky telah menekankan,”perkembangan tidak terjadi pada kecepatan yang sama.terdapat periode dengan intensitas tinggi dan ketidakseimbangan dan terdapat periode keseimbangan.perkembangan akhirnya mencapai suatu daerah mendatar dan ini terjadi pada setiap tingkat atau antar tingkat. Selanjutnya perubahan perkembangan tidak selalu bergerak mengikuti garis lurus.hal itu ada kalanya kadang bergerak mundur,misalnya anak yang telah iri bergerak mundur ke cara-cara bayi melakukan sesuatu dengan harapan menarik perhatian orang tuanya seperti yang di alami sebelumnya.
Karena perkembangan sifatnya berkesinambungan,apa yang terjadi pada suatu tahap akan mempengaruhi tahap berikutnya.sikap tidak sehat mengenai diri sendiri atau hubungan debgan orang lain selama tahun-tahun awal jarang hilang secara keseluruhan.sikap ini di refleksikan dalam penampilan kehidupan individu bahkan pada usia menengah dan tua.seperti yang di temukan erikson”kepercayaan dasar atau ketidakpercayaan dasar berkembang selama masa bayi”,dan bertahan sepanjang hidup dan mewarnai reaksi seseorang terhadap orang lain dan suasana kehidupanya.
Berbagi bidang berkembang dengan kecepatan yang berbeda
Meskipun perkembangan berbagai ciri fisik dan mental berlangsung secara berkesinambungan,perkembangan itu tidak akan pernah seragam bagi seluruh organisme.jika tubuh harus mencapai proporsi dewasa,maka harus terjadi ketidaksamaan percepatan.misalkan,kaki,tangan dan hidung mencapai perkembangan maksimum pada masa awal remaja,sedangakan bagian bawah wajah dan bahu berkembang lebih lambat. Ukuran kemampuan kecerdasan mengungkapkan bahwa seperti halnya ciri-ciri fisik,hal itu berkembang dengan kecepatan berbeda dan mencapai kematangan pada berbagai usia.misalnya imaginasi kreatif berkambang lebih cepat.ingatan untuk manghafal dan ingatan untuk objek nyata dan fakta berkembang lebih cepat ketimbang ingatan atas materi abstrak dan teoritis. Variasi kecepatan perkembangan berbagai ciri fisik dan mental,terutama bila sangat menonjol menimbulkan berbagai masalah penyesuaian.anak yang “superior immature”yang perkembangan kecerdasanya melebihi perkembangan fisik,sosial,atau emosional akan berbeda dari anak sebaya atau lebih tua.demikian halnya,kenyataan bahwa beberapa bagian tubuh mencapai ukuran matang lebih awal daripada bagian yang lain,sebagian merupakan penyebab dari timbulnya rasa aneh dan kesadaran akan diri pada para remaja muda usia.
Ada korelasi dengan perkembangan
Terdapat keyakinan tradisional yang banyak di pertahankan bahwa alam mengimbangi ketidakseimbangan di suatu bidang dengan perkembangan yang lebih besar di bidang lain.seorang gadis yang cantik namun bodoh dan seorang yang jejakayang pandai namun buruk rupa adalah tipe klasik keyakinan ini.keyakinan tersebut belum disahihkan oleh studi percobaan.teman dan oden bekesimpulan atas dasar studi genetik, bahwa ciri bawaan yang di inginkan cenderung berkembang bersamaan.tidak di temukan hubungan negatif antara kecerdasan dan ukuran,kekuatan kesempurnaan fisik atau stabilitas emosional.
Pada waktu perkembangan fisik berlangsung dengan cepat,maka demikian pula dengan perkembangan mentalnya.apabila perkembangan fisik di tandai oleh perubahan proporsi tubuh seperti halnya peningkatan ukuran,demikian pula perkembangan mental yang di tandai oleh perbedaan kecepatan pertumbuhan ingatan,penalaran,asosiasi dan kemampuan mental lainya.
f) Terdapat perbedaan individu dalam perbandingan
Dalam perbandingan itu sendiri, perbedaan individu merupakan hal yan tidak bisa dipisahkan atas hal itu. Dan ketika perbedaan individu itu muncul membuat bertambahnya unsur-unsur yang ada dalam perbandingan, sehingga kedudukan dan pengkajian perbandingan secara tidak langsung dipperkuat oleh kedudukan dari perbedaan individu tersebut.
Walaupun pola perkembangan sama bagi semua anak,setiap anak mengikui pola yang dapat diramalkan dengan cara dan kecepatanya sendiri.beberapa anak berkembang dengan lancar dan bertahap,serta langkah demi langkah,sedangakan yang lain bergerak dengan kecepatan melonjak.beberpa di antaranya menunjukkan sedikit penyimpangan,sedangkan pada yang lain banyak terjadi penyimpangan.oleh karena itu,semua anak tidak mencapai titik perkembangan yang sama pada usia yang sama.
Penyebab perbedaan
Dobhansky mengatakan, setiap orang memang berbeda satu sama lain secara biologis dan genetik. Sebagai tambahan, tidak ada dua orang yang mempunyai lingkunngan yang identik,demikian pula pada kembar identik.ini berarti bahwa perbedaan individu di sebabkan oleh kondisi internal dan eksternal.akibatnya pola perkembangan akan berbeda untuk setiap anak,walaupun ia serupa di berbagai aspek utama dari pola yang di ikuti anak lain.contohnya perkembangan fisik sebagian bergantung pada sisi keturunan dan sebagian pada beberapa faktor lingkungan seprti makanan,kesehatan,sinar matahari,hawa segar,iklim,emosi,dan pengerahan fisik.
Perkembangan kecerdasan di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti kemampuan bawaan,suasana emosinal, apakah seseorang mempunyai dorongan emosional yang kuat, dan apakah seseorang mempunyai kesempatan untuk mengalami dan belajar.perkembangan kepribadian di pengaruhi oleh faktor genetik selain juga oleh sikap dan hubungan sosial,baik di rumah maupun di luar rumah.
Terdapat bukti bahwa perbedaan fisik dan mental terdapat pada semua jenis kelamin dari anak dan dari latar belakang ras yang berbeda-beda.perbedaan ini sebagian karena faktor keturunan dan sebagian lagi dari faktor linkungan.dari kedua itu dapat disimpulkan bukti bahwa faktor lingkungan lebih gerpengaruh dalam menimbulkan perbedaan perkembangan anak.
Konsistensi pola
Walaupun kecepatan perkembangan anak berbeda-beda,semua anak menunjukkan konsistensi perkembangan tertentu.ini berarti bahwa anak mengikuti pola khas miliknya,serta dikendalikan oleh kombinasi unik dari keturunan dan faktor linkungan.penelitian mengungkapkan bahwa anak yang tinggi pada suatu usia,juga tinggi pada sesuatu yang lain,sedangkan mereka yangpendek tetap pendek.pertumbuhan usia mental anak-anak yang cerdas,rata-rata,atau bodoh menunjukkan konsistensi yang serupa.anak dengan pertumbuhan mental yang cepat akan terus berlanjut dengan cepat.mereka yang lambat secara mental jarang dapat mengejar,tetapi mengkin dapat menjadi terbelakang dengan semakin bartambahnya usia.
Uji ulang kecerdasan anak sejak lahir sampai matang mengungkapkan konsistensi mendasar yang kuat.contohnya lima anak laki-laki dan lima anak perempuan yang berusia satu bulan sampai lima tahun.merek relatif mirip pada mulanya,tetapi milai usia 5 tahun telah nampak perbedaan individu.kesamaaan awal mungkin tidak sebesar kelihatanya.test pada tahun-tahun awal mungkin tidak menunjukkan perbedaan menonjol sebagaimana pola tingkat usia yang lebih tua.
Nilai praktis perbedaan individu
Dari sudut teoritis,sangat penting mengetahui bahwa anak mengikuti perkembangan pola yang berbeda dari pola yang di ikuti anak lain walaupun hanya dalam hal-hal kecil,nilai praktis pengetahuan seperti itu jauh melampaui nilai teoritisnya.alasanya ialah para orang tua dan guru cenderung berpikir bahwa anak usia yang sama adalah serupa dan ia mengharapkan perilaku yang serupa darinya atau bahwa apa yang berlaku bagi satu anak dengan sendirinya juga berlaku bagi anak lain.
Di antara berbagai nilai praktis untuk mengetahui bahwa pola perkembangan bebeda bagi semua anak,empat yang terpenting di bahas di bawah ini:
a. harapan yang berbeda
semua anak dengan usia yang sama tidak dapat diharapkan untuk bersikap dengan cara yang serupa.seorang ank yang berasal dari lingkungan tanpa budaya membaca tidak dapat di harapkan belajar membaca seperti seorang anak dengan kemampuan yang sama yang orang tuanya menghargai pendidikan dan mendorong anak itu untuk membaca.
b. dasar individualitas
anak yang berbeda dari anggota lainya dalam suatu kelompok,dengan syarat perbedaanya tidak terlalu mencolok,akn mampu menarik perhatian anak lain dan akan mampu menyumbang sesuatu yang lain untuk kegiatan kelompok tersebut.
c. pendidikan anak harus bersifat perseorangan
seorang anak mungkin memberi tanggapan positif terhadap pengendalian yang sifatnya otoriter karena hal itu memberinya perasaan aman,sementar anak yang lahir akan memberi tindakan yang melawan dan rasa benci.
d. meramal adalah sulit
walaupun di ketahui bagaimana umumnya orang bereaksi dalam suatu suasana.tidak mungkin meramalkan bagaimana orang tertentu akan beraksi.
g) Periode pola pekembangan
Adanya periode perkembangan merupakan tahapan pola perkembangan, periode merupakan proses yang harus dilalui untuk melakukan perkembangan. Periode itu sendiri, nantinya dapat menjaga keseimbangan dalam seluruh pelaksanaannya agar tetap terkendali dalam perkembangan yang diharapkan.
Walaupun perkembangan berlangsung secaraberkesinambungan,terdapat bukti bahwa berbagai usia ciri bawaan tertentu lebih tertentu lebih menonjol daripada yang lain karena perkembanganya terjadi lebih cepat.oleh karena itu di mungkunkan okeh menandai periode utama yang di tunjukkan oleh jenis perkembangan tertentu yang membayangi lainya.karena adanya variasi individual,batas usia dari periode ini hanya dapat di ramalkan secara kasar.bijou mengusulkan bahwa periode perkembangan tidak di tandai dengan usia,tetapi dengan kejadian bioligis dan perubahan dalam perilaku seseorang.lima periode perkembangan pada anak di mulai dengan saat pembuahahan dan berakhir ketika anak itu matang secara seksual.
Periode keseimbangan dan ketidakseimbangan
Dalam pola perkembangan beberapa periode di tandai oleh keseimbangan dan yang lain oleh ketidakseimbangan.pada yang pertama anak menyesuaikan dengan baik dan mudah di tangani.sedangkan pada yang kedua tampaknya terganggu oleh gangguan dari dalam atau oleh faktor lingkungan,tidak dapat mengambil keputusan,rasa tidak aman dan pola perilaku lainya.akibatnya anak sulit di tangani.
Seperti halnya terdapat usia keseimbangan dan ketidakseimbangan yang dapat di ramalkan,demikian pula terdapat pola perilaku yang dapat diramalkan pada usia ini.selama berlangsungnya periode ketidakseimbangan anak-anak tampaknya berusaha memutuskan ikatan lama.anak-anak yang baik tiba-tiba menjadi buruk,mereka mendapat kesulitan dalam hal makan dan tidur serta dalam menyesuaikan diri dengan orang lain dan hidup secara umum.sebaliknya selama periode keseimbangan,anak-anak menjadi pusat perhatian dan menunjukkan tanda-tanda penyesuaian yang baik.mereka tidak saja baik untuk menyesuaikan dirinya,tetapi mereka juga lebih bahagia dan santai.
Anak laki-laki dan perempuan berkembang dengan kecepatan berbeda dan periode keseimbangan dan ketidakseimbangan mereka terjadi pada usia yang sedikit berbeda.pada waktu masa kanak-kanak mulai berakhir anak perempuan memulai perubahan pubertasnya kira-kira satu tahun lebih awal ketimbang anak laki-laki.dalam setiap kelompok jenis kelamin,terdapat juga perbedaan antara mereka yang cepat matang dan yang lambat matang.
Perilaku normal lawan perilaku bermasalah
Dalam setiap perkembangan beberapa pola perilaku normal di anggap sebagai pola perilaku “bermasalah”bagi orang tua,guru,dan orang dewasa lainya karena mereka tidak mengikuti standart orang dewasa.misalnya.ank kecil yang mengambil barang orang lain atau yang menceritakan”omong kosong”.mereka belum mencapai tingkat perkembangan mental yang memungkinkan memahami perbedaan antara milikku dan milikmu atau antara kenyataan dan hasil imajinasi.
Pola perilaku bermasalah timbul karena penyesuaian yang harus di lakukan anak terhadap tuntutan lingkungan yang baru.semakin besar tuntutan yang terjadi dalam lingkungan,semakin besar pula masalah penyesuaian yang akan di hadapi anak tersebut..selama tahap ketidakseimbangan,suatu konstelasi tekanan lingkungan dan perubahan biologis mempengaruhu perilaku anak.pada masa pubertas harapan masyarakat ialah agar si anak bersikap dewasa bertepatan dengan penyesuaian yang harus di lakukan anak itu terhadap perubahan fisik dan psikologis yang timbul pada masa pubertas.
Para orang tua guru sering manganggap perilaku normal yang mengganggu ketenangan di rumah atau kelancaran sekolah sebagai perilaku bermasalah.bila mereka beranggapan seperti itu si anak mungkin akan mengembangkan sikap yang tidak menyenangkan terhadap mereka dan terhadap situasi di mana perilaku itu terjadi.akibatnya ialah si anak mengembangkan perilaku yang merupakan masalah serius,misalnya berbohong,berbuat licik atau merusak sebagai cara membalas dendam.kebanyakan bentuk perilaku bermasalah yang nyata adalah normal bagi usia yang lebih muda.anak-anak mungkin betahan dengan perilaku yang tidak matang karena mereka belum belajar dalam menghadapi kebutuhanya.dengan cara yang lebih matang atau mereka kurang puas dengan perilaku yang matang.kenyataan bahwa bentuk perilaku tertentu adalah normal dalam usia tertentu tidak dengan sendirinya dapat di terima.juga hal itu tidak berarti bahwa mereka harus di tolerir tanpa ada usaha mengubahnya.sebagai contoh,jika anak mempunyai koordinasi motorik yang cukup untuk mengambil mainan anak lain,mereka juga cukup mempunyai koordinasi motorik untuk memberikan salah satu mainanya sebagai pengganti.tidak ada satu pun bentuk dari perilaku yang bermasalah boleh di lewatkan atas dasar bahwa hal itu “spesifik”dan bahwa ank –anak akan melampaui tahap tersebut.
Mugkin hal itu benar tetapi sama mungkinya bahwa hal itu tidak terjadi.selain itu,perilaku yang secara khas tidak di temukan pada usia anak atau tingkat kematangan tertentu merupakan tanda bahaya memungkinkan timbulnya kesulitan di masa datang.dalam keadaan demikian ,harus di lakukan usaha untuk menyembuhkanya sebelum berkembang menjadi cara penyesuaian yang biasa.
Pentingnya periode perkembangan
Terlepas dari perbedaan seperti yang di sebutkan di atas,semua anak biasanya mengalami periode perkembangan yang berbeda pada sekitar usia yang sama.oleh karena itu melatih anak dan ketentuan belajar yang di rencanakan sesuai dengan pola utama yang karakteristik anak dari kelompok budaya tertentu.selanjutnya kelompok budaya mengharapkan setiap anak menguasai tugas perkembangan yang di tetapkanya untuk tahapan tersebut.
Sedikit variasi dari norma umumnya dapat di tanggulangi dengan bantuan dari orang tua dan guru.bilamana penyimpangan yang di lakukan besar ,harus di adakan ketentuan khusus.kalu tidak anak sangat menyimpang sehingga tidak dapat menimba keuntungan yang terdapat dari pengalaman belajar yang di berikan.
Apabila pola perkembangan normal,satu periode menyiapkan dan membimbing anak dengan berhasil ke periode berikutnya.dalam perkembangan sosial,anak prasekolah di harapkan belajar menyesuaikan diri secara sosial dengan teman sebayanya.jika mereka kehilangan kesempatan yang di perlukan untuk belajar,mereka tida akansiap memasuku usia”gang”kelak di akhir masa kanak-kanak yaitu,ketika anak-anak bermain tanpa di perhatika orang tua dan ketika anak di harapkan mengetahui bagaimana cara bergaul dengan teman seusia dengan baik.
Keterlambatan di bidang yang dominan di usia tertentu cenderung mengganggu perkembangan dalam bidang yang berkaitan .sebagai contoh ditemukan anak yang tidak populer kehilanhan kesempatan untuk bermasyarakat.dengan terputusnya hubungan sosial dengan teman sebaya,anak itu telah kehilangan kesempatan untuk mengembangakan keterampilan motorik,kecakapan berkomunikasi,dan pengendalian emosi.akibatnya seluruh pola perkembangan terpengaruh.
h) Pada setiap periode perkembangan terdapat harapan sosial
Dengan adanya periode perkembangan terdapan harapan sosial yang merupakan suatu komponen penting, agar nantinya perkembangan itu sendiri dapat diterima di berbagai elemen masyarakat dan di dalam kehidupan sosial. Harapan sosial itu nantinya dijadikan sebagai pencapaian dan tujuan dari perkembangan itu berlangsung secara menyeluruh.
Dalam setiap kelompok budaya, pengalaman telah menunjukkan bahwa orang dapat mempelajari pola perilaku dan keterampilan tertentu dengan lebih mudah dan berhasil pada usia-usia tertentu ketimbang saat lainnya.
Orang dari bebagai usia sangat menyadari adanya Harapan Sosial tersebut. Bahkan anak kecil mengetahui dari apa yang dikatakan apa yang disuruh orang tua untuk melakukannya, bahwa beberapa hal tertentu di harapkan dariny. Mereka segera menyadari, dari persetujuan atau tidak kesetujuan terhadap perilaku mereka, bahwa harapan sosial ini sebagian besar menentukan pola belajar mereka.
Harapan sosial dikenal sebagai tugas perkembangan (development task). Havighurst telah mendefinisikan tugas perkembangan sebagai “tugas yang timbul pada atau sekitar periode kehidupan individu tertentu , keberhasilan melakukannya menimbulkan kebahagiaan dan keberhasilan pelaksanaan tugas lainnya kela, sedangkan kegagalan menimbulkan ketidakbahagiaan, ketidaksetujuan masyarakat, dan kesulitan dalam pelaksanaan tugas lainnya kelak.” Beberapa tugas perkembangan terutama muncul sebagai hasil kematangan fisik (belajar berjalan) yang lain terutama berkembang dari tekanan budaya masyarakat (belajar membaca dan memainkan peranan jenis kelamin yang sesuai) namun, masih ada lainnya yang timbul dari nilai-nilai pribadi dan aspirasi individu (memilih dan menyiapkan diri untuk suatu pekerjaan). Kebanyakan tugas perkembangan timbul dari kerjasama ketiga kekuatan ini. Tugas perkembangan utama di masa kanak-kanak disajikan dalam kotak.
Dalam kebudayaan yang relative statis, tugas perkembangan tetap sama dari generasi ke generasi berikutnya. Akan tetapi, dalam kebudayaan yang berubah dari tenaga manusia menjadi tenaga kerja mesin, ketrampilan belajar menggunakan tangan menjadi kurang penting dari pada belajar menjalankan mesin.
i) Setiap bidang perkembangan mengandung bahaya yang potensial
Adanya perkembangan itu dikhawatirkan akan menimbulkan sesuatu yang tidak diharapkan, karena hal tersebut mengandung bahaya potensial. Hal itu terjadi akibat perkembangan itu sendiri tidak mampu untuk tetap dalam konteks kewajaran dan hanya berdasarkan hasrat pribadi yang nantinya dapat merusak tatanan sosial yang ada.
Walaupun pola perkembangan bergerak normal, kadang-kadang pada setiap usia terdapat bahaya di beberapa bidang perkembangan yang mengganggu pola normal ini. Seperti diterangkan Erikson, “perjuangan yang tidak terelakkan yang menandai seluruh pertumbuhan dapat menimbulkan sejumlah bakat yang benar-benar dapat diandalkan atau masalah yang tidak dapat dijajaki”.
Beberapa bahaya ini berasal dari lingkungan sedangkan yang lain tumbuh dari dalam diri. Terlepas dari asalnya, bahaya ini dapat mempengaruhi usaha penyesuaian fisik, psikologis dan sosialyang dilakukan seorang anak. Akibatnya, mereka mengubah pola perkembangan sehingga menghasilkan suatu daerah mendatar dimana tidak terjadi pergerakan maju atau menyebabkan kemunduran ke tahapan yang lebih rendah. Bila hal ini terjadi, anak itu menghadapi masalah penyesuaian dan dikatakan mempunyai penyesuaian yang buruk atau tidak matang.
Pentingnya Peringatan Awal Adanya Bahaya
Peringatan awal adanya kemungkinan bahaya yang berhubungan dengan berbagai bidang perkembangan merupakan hal yang penting karena hal itu memungkinkan mereka yang bertanggung jawab dalam membimbing perkembangan anak terutama para orang tua dan guru untuk siap menangani penyebab bahaya itu, dan sama pentingnya ialah mengambil langkah yang tepat untuk menghindarkannya. Misalnya, mengetahui bahwa tidak ada pengawasan mungkin mengakibatkan kecelakaan dimasa kanak-kanak, para orang tua yang tidak bertanggung jawab dalam mengawasi anak-anaknya dapat memasukannya kedalam sekolah taman kanak-kanak, atau tempat penitipan anak, dimana pengawasan yang cukup diberikan.
Demikian juga halnya dengan mengetahui bahwa selama tahap awal belajar berbicara hampir semua anak menganggap bila mereka sangat senang, orang tua dapat menghindari bahaya berbicara ini dengan lingkungan supaya tidak terlalu merangsang dan menenangkan anaknya bila mereka terlalu gembira.
j) Kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode perkembangan
Periode perkembangan itu sendiri nantinya dapat memberikan kebahagiaan bervariasi yang merupakan karakteristik yang dapat dirasakan ketika kita mampu untuk melakukan perkembangan berdasarkan tahapan dan pencapaiannya secara hakiki.
Sesuai dengan tradisi masa kanak-kanak merupakan periode kehidupan yang paling membahagiakan. Tradisi ini telah dipertegas dengan hal lain, bahwa masa kanak-kanak seharusnya bahagia, waktu yang bebas dan aman untuk menjamin penyesuaian yang baik dalam hidup kedewasaan. Dewasa ini, terdapat banyak bukti yang menunjukan bahwa keyakinan tersebut tidak benar dan bagi bnyak anak, hal itu justru berlawanan.
Studi mengenai kebahagiaan di masa kanak-kanak telah mengungkapkan bahwa bagi beberapa anak, masa kanak-kanak adalah saat bahagia, sedangkan bagi yang lain merupakan masa yang tidak bahagia. Laporan retrospektif mengenai kebahagiaan pada berbagai usia yang dilakukan orang dewasa telah menunjukan hasil yang serupa.
Beberapa orang dewasa ingat bahwa masa kanak-kanak mereka merupakan masa yang paling bahagia dalam kehidupan mereka. Sebaiknya laporan restrospektif dari beberapa orang dewasa telah menunjukan bahwa ingatan yang tidak menyenangkan membayangi kebahagiaanya dan bahwa mereka tidak ingin kembali kemasa kanak-kanak.
Kesulitan Mempelajari Kebahagiaan
Tidak salah lagi, salah satu dari kesenjangan terbesar dalam pengetahuan ilmiah mengenai bagaimana perkembangan anak berkaitan dengan kebahagiaan pada bernbagai periode pada masa kanak-kanak. Kesenjangan ini timbul dari tidak adanya minat atau dari keyakinan bahwa peran kebahagiaan dalam kehidupan anak tidak terlalu penting untuk membenarkan dilakukannya studi ilmiah.
Sebaliknya, tidak adanya informasi itu disebabkan oleh dua kondisi. Pertama, “kebahagiaan” merupakan istilah samar yang hingga sekarang mempunyai berbagai arti utuk berbagai orang. Seperti halnya pada awal peneliian perkembangan kepribadian tidak terdapat kesesuaian tentang arti kata kepribadian, sekarang juga tidak terdapat kesepakatan tentang arti kata “kebahagiaan”. Bagi beberapa orang ia sinonim dengan kegembiraan sedangkan yang lain menerima definisi baku kamus yang menyatakan bahwa kebahagiaan adalah keadaan sejahtera atau kepuasa – kondisi yang didominasi oleh kepuasan yang menyenangkan. Menanggapi hal ini, Cambell telah mengatakan :”Tampaknya kita telah tiba pada titik di mana kita harus berhenti menggunakan kata kebahagiaan secara sembarangan dengan mengacu kesetiap aspek pengalaman yang kita anggap posisi dan mulai bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mengidentifikasio dimensi utama pengalaman sejah tera, mengenbangkan alat untuk mengukurnya, menganalisis hubungan satu sama lain, dan mengadakan suatu rangkaian waktu yang memungkinkan diadakan studi tentang hakikat perubahan”
Kedua, kebahagiaan merupakan pengalaman subjektif sehingga sulit diukur dengan prosedur standar yang objektif. Sebaliknya, laporan introspektif dan retrospektif harus dipercaya untuk memperoleh informas. Sejak awal penelitian psikologis,telah diterima secara luas bahwa introspeksi dan retrospeksi bukanlah metode penelitian ilmiah yang disepakati. Hanbya bila hasilnya dapat diperiksa berdasarkan teknik obyektif, kita dapat mengandalkan penemuannya.
Juga sejak awal penelitian psikologis telah disepakati secara luas bahwa anak-anak, terutama selama persekolahan, tidak dapat menggunakan teknik instropektif dan retrospektif sebagian karena belum lancer berbahasa untuk menyatak pekiran dan perasaannya dengan kata-kata dan sebagian karena mental mereka masih belum matang untuk memisahkan antara kenyataan yang penting dan yang tidak. Walaupun ketika anak-anak memasuki usia remaja masih diragukan apkah instropeksi mereka dapat dipercaya demikian pula dengan retopeksi mereka.
Karena kesulitan metodelogi untuk mempelajari kebahagiaan pada anak-anak dilakukan usaha untuk memberikan fakta tentang kebahagiaan yang tidak hanya berdasarkan laporan anak tetapi terutama pada bukti obyektf, seperti perilaku, pembiicaraan, emosi dan ekspresi wajah mereka. Waaupun data yang diperoleh tidak cukup, merka membantu dalam menentukan kapan dan dalam konisi apa saja kebahagiaan itu diharapkan terjadi.
Kebahagiaan atau tidak adanya kebahagiaan menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap penyeasuaian pribadi dan sosial anak, sehingga untuk memahami penyesuaian tersebut orang harus mengerti bagaimana mereka dipengaruhi oleh kesulitan mempelajari istilah “kebahagiaan” atau kesejahteraan yang masih tetap belum dapat didefinisikan secara ilmiah.
Periode Kebahagiaan dan Ketidakbahagiaan
Hasil dari berbagai studi tentang kebahagiaan telah memperlihatkan bhwa dalam usia tertentu dapat diramalkan, lebih membahagiakan dari pada lainnya. Masa bayi untuk sebagian terbesar merupakan periode yang paling bahagia sepanjang hidup. Ini karena hamper setiap orang – baik dewasa maupun anan – anak – terkesan akan ketidak berdayaan seoran bayi dan berusaha membahagiakannya. Akan tetapi, beberapa bayi tidak diinginkan di tak acuhkan dan disiksa. Bagi mereka masa bayi dapat menjadi saat yang menyedihkan.
Dengan sendirinya tahun kedua dari kehidupan kurang bahagia dari pada tahun pertama. Selama tahun ini bayi sering rewel dan mudah tersinggung bila gigi tumbuh, hal ini membuat mereka kurang menarik. Mereka tidak suka di anggap seperti bayi dan dalam upaya menunjukkan kemandiriannya mereka menjadi suka melawan dan sulit ditangani. Mereka kecewa karena tidak dapat melakukan sesuatu yang diingginkan karena teknik pendisiplinan yang mungkin mencakup tamparan dan pukulan. Selain hal tersebut di atas banyak bayi dibuat tidak bahagia selama tahun kedu kehidupan dengan kelahiran saudaranya yang menjadi pusat perhatian baru orang tuanya.
Karena lingkungan anak kecil terutama terbatas di dalam rumah kebahagiaan mereka terutama ditetukan oleh bagaimana anggota keluarga mempermalukan mereka. Misalnya, saudara kandung menolak untuk bermain dengannya karena ia tidak dapat mengikuti kecepatan mereka atau bilamana orang tua menunjukkan perhatian yang lebih besar pada saudaranya yan lain dari dirinya, sehingga ia akan merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan.
Banyak faktor yang mempengaruhi kebahagiaan dalam akhir masa kanak-kanak. Hasilnya, periode ini merupakan salah satu dari periode yang paling bahagia sepanjang hidup. Salah satunyadari kondisi yang paling pentina yang mempengaruhgi kebahagiaan pada usia ini adalah bahwa anak yang lebih besar, lebih banyak mempunyai pilihan dalam lingkungan mereka dari pada ketika masih dalam prasekolah. Bila mereka tidak bahagia di rumah, mereka dapat lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah di tempat bermain atau dirumah teman sebayanya yang suasana rumahnya lebih menyenangkan dari pada rumahnya sendiri. Sebagai tambahan, mereka biasanya lebih sehat dari pada sebelumnya dan ini memungkinkan mereka untuk melakukan apa saj yang diinginkannya. Apabila mereka telah mengatasi masalah penyesuaian sekolah dasar, mereka tidak perlu melkukan upaya besar dalam penyusuaian diri dengan kehidupan sekolah sampai mereka mencapai usia sekolah menengah pertama masa pubernya. Selain itu, karena lingkaran kenalan disekolah yang tersedia jauh lebih luas, mereka dapat memilih teman yang lebih menyenangkan.
Masa puber merupakan periode yang tidak menyenangkan bagi kebanyakan anak, sehingga mereka berusaha menhindarinya dengan menghabiskan waktunya dalam dunia khayal atau dengan berbicara tentang bunuh diri, atau bahkan untuk melakukannya. Banya kondisi yang turut mempengaruhi ketikdak bahagiaan dalam periode ini. Peertumbuhan dan perubahan yang cepat selama masa puber menimbulkan kelelahan yang menyenbabkan para remaja marah-marah. Hal ini sebaliknya membuat mereka kuran disukai anggota keluarga, guru, dan teman sebayanya. Bahkan suasan rumah yang bahagia mungkin menjadi tidak menyenangkan, kecuali jika orang tua dan saudara-saudranya mengerti si remaja elum mencapai kondisi fisiknya dan masih mungkin berperilaku yang tidak sosial. Secara retrospeksi kebanyakan orang dewasa menganggap masa puber sebagai periode yang tidak paling membahagiakan yang pernah mereka alami.
Dalam setiap periode utama perkembangan terda[at saat-saat keseimbangan dan ketidak keseimbangan periode keseimbangan secara keseluruhan jauh lebih membahagiakan dari pada periode ketidak keseimbangan. Ini karena, seperti yang telah diterangkan sebelumnya, periode ketidak seimbangan adalah saat-saat ketika anak tidak menjadi pusat perhatian dan akibatnya mereka cenderung melakukan penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk.
Esensi Kebahagiaan
Dari analisis kebahagiaan dan ketidak keseimbangan pada berbagai waktu selama masa kanak-kanak sepeerti yang diuraikan sebelumnya, seyogyanya telah jelas bahwa terdapat tiga hal penting yang tampak nyata. Ketiga hal itu ialah penerimaan, kasih sayang, dan prestasi.
Penerimaan bukan saja berarti penerimaan oleh orang laintetapi juga penerimaan terhadap diri sendiri. Akan tetapi umumnya hal itu berjalan seiring. Anak yang diterima orang lain merasa mudah menyukai dan menerima diri sendiri. Dengan demikian, mereka menjadi orang yang menyesuaikan diri dengan baik serta disenangi teman sebayanya dan orang dewasa.
Anak yang diterima dapat mengharapkan ada kasih sayang. Semakin mereka dierima semakin besar perasaan kasih sayang yang akan diperoleh. Untuk menerima kasih saying juga harus menunjukkan kasih sayang. Apabila mereka tidak melakukan hal yang sama, maka penerimaan orang lain akan berkurang, begitu pula sebaliknya jumlah kasih sayang yang dierima akan berkurang. “Kebahagiaan Yang ketiga” adalah prestasi. Agar anak bahagia, prestasi mereeka harus di anggap penting oleh anggotak kelompok sosial dengan mana mereka menyatukan diri.
Selain itu, kebahagiaan anak bergantun pada pencapaian tujuan yang mereka tetapkan sendiri. Dan salah satu hambatan terbesar kebahagiaan masa kanak-kanak adalah penentuan tujuan yang tidak sesuai kenyataan jika guru mendorong melakukan hal menurut perkembangan dan belum siap dilakukannya, si anak akan mengalami kegagalan. Akibatnya mereka akan menjadi tiodak puas atas diri sendiridan orang lain menganggap gagal. Jika tujuan nyata atau anak itu mampu menggapainya mereka berprestasi yang penting peneriman dirinya sendiri.tak satu ketiga hal tersebut menimbulkan kebahagiaan secara terpisah. Apabila anak merasa puas sejahtera mereka harus mengalami ketigannya.
Pentingnya Kebahagiaan
Ketidakbahagiaan membahayakan penyesuaian diri pribadi dan sosial anak. Ini karena kebahagiaan mempengaruhi pola perkembangan yang dapat membuat anak tidak menunjukkan kemampuan yang sebenarnya dalam melakukan apa saja. Selanjutnya akan muncul lingkaran ketidak bahagiaan dan malasuai tanpa akhir. Karena penbgaruh ini, terdapat pembenaran untuk menyimpulkan bahwa keyakinan tradisional bahwa kanak-kanak harus merupakan masa yang bahagia memang benar,walupun penekanan pada upay mencapai kebahagiaan dewasa mellui masa kanak-kank yang bebas kendali samngat diragukan. Sebaliknya, kebahagiaan mempunyai pengaruh atas perkembangan anak dan tipe penyesuaian yang dilakukannya. Kebahagiaan mempengaruhi sikap, perilaku dan kepribadian mereka. Pengaruh kebahagiaan dalam banyak hal berlawanan denag pengaruh ketidak bahagiaan.
2.3. Implikasi Perkembangan bagi Pendidikan
Dengan perkembangan dapat memberikan pengaruh sangat besar bagi pendidikan, baik itu formal maupun informal. Proses perkembangan itu dilakukan secara bertahap, sehingga menjadikan peserta didik atau anak semakin mengerti dalam menjalankan seluruh aturan atau perintah yang dilaksanakan oleh pendidik atau orang tua.
Di dalam proses perkembangan, para siswa dan guru mempunyai tugas masing-masing. Tugas para siswa adalah mengusahakan dirinya untuk mencapai perkembangan yang optimal dan mengaktualisasikan dirinya. Adapun tugas guru-guru adalah menyediakan lingkungan yang sebaik-baiknya untuk perkembangan para siswanya. Studi tentang perkembangan sangat penting karena berbagai alasan, seperti halnya sebagai berikut:
1) Praktik mengajar yang efektif didasarkan atas perkembangan kematangan atau kesiapan para siswa.
2) Karena manusia sedikit sekali diperlengkapi dengan perilaku instingtif, maka untuk dapat menyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya ia harus mengembangkan berbagai jenis perilaku yang dapat memudahkan menyesuaikan diri tersebut.
3) Pendidikan yang mengabaikan prinsip-prinsip perkembangan akan mengalami hambatan-hambatan dan kegagalan.
4) Pendidikan itu sendiri adalah hasil dan proses perkembangan. kehidupan yang penuh dan realisasi diri merupakan proses perkembangan. (Hamalik, 2004: 87)
BAB III
PENUTUP
1.1. Kesimpulan
Kesimpualan umum yang dapat ditarik dari beberapa definisi diatas, bahwa perkembangan tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dan fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan dan belajar. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk atau tahap ke bentuk atau tahap berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian.
Dari penegertian tersebut, dapat dikorelasikan atau dikaitkakan dengan adanya kesinambungan dalam perwujudan secara menyeluruh. Peranan komponen masyarakat, lingkungan, individu, keluarga dan lain-lainya. Mempunyai keterikatan yang sulit untuk dipisahkan, dalam artian komponen-kompenen tersebut saling membutuhkan dan melengkapi demi melakukan perkembangan. Adanya perkembangan itu sendiri menyebabkan adanya implikasi dalam pendidikan, sehingga nantinya perkembangan ini dapat berlangsung secara hakiki dan menyeluruh.
1.2. Saran
Dari penjelasan makalah ini, diharapkan pembaca semakin mengetahui dan memahami prinsip-prinsip perkembangan secara menyeluruh. Hal itu dimaksudkan agar nantinya perkembangan itu sendiri terjadi dengan adanya tahapan dan proses yang ditentukan oleh individu dan faktor pendukung lainnya. Untuk penulisan makalah berikutnya, diharapkan penulis semakin memperbanyak sumber referensi dan pengalaman yang ada. Semoga makalah ini dijadikan sebagai tolak ukur demi pencapaian kesempurnaan pembahasan prinsip-prinsip perkembangan dalam penulisan yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Desmiati, Dra. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hamalik, Oemar. 2004. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Hartinah, Sitti. 2008. Pengembangan Peserta Didik. Bandung: PT Refika Aditama.
Hurlock, E.B. 1978. Perkembangan Anak. Dialihbahasakan oleh Meitasari. Jakarta: Erlangga.
Mappiare, Andi, 1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Monks, dkk. 2006. Psikologi perkembangan, Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.
Mussen, Henry Paul, dkk. 1984. Perkembangan dan Kepribadian Anak. Jakarta: Erlangga.
Rahayu, Siti. 2006. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Santrock, John. W.2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Soejanto, Agus. 1981. Psikologi Perkembangan. Surabaya; Aksara Baru.
Sunarto, dkk. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Winkel, W.S. 2005. Psikologi Pengajaran. Jogjakarta: Media Abadi.
Yusuf, Syamsu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

0 comments:

Post a Comment