Lets Share Our InZpiration

24 February 2010

Panglima Besar Soedirman wafat

Sehari setelah Perdana Menteri R.I. Dr. A. Halim berkunjung menengok Pak Dirman, akhirnya pada hari Minggu Pahing tanggal 29 Januari 1950 jam 18.39, malam Senin Pon bersamaan dengan lenyapnya kumandang suara azan maghrib di lembah gunung Tidar di rumah Blok C-7 Pasanggrahan Tentara di Badakan Magelang, Tuhan Yang Maha Esa telah menentukan batas akhir pengabdian manusia Sudirman di dunia yang fana. Pak Dirman telah dipanggil kembali oleh-NYA, selagi namanya masih bersih dari cacat dan cela dunia. Tertunai sudah tugas kepemimpinannya. Pak Dirman telah meninggalkan nama besar, nama yang harum sepanjang masa. Sekarang maupun kemudian. Pagi harinya tanggal 30 Januari 1950 jazad Pak Dirman yang ditaruh di sebuah peti dan diselubungi bendera merah putih dinaikkan mobil jenazah warna merah dari Kraton Yogya dibawa kembali dari Magelang menuju Yogya dengan mendapat sambutan ratusan ribu rakyat di sepanjang jalan. Setiba di Yogya jenazah langsung dibawa ke Mesjid Agung untuk disembahyangkan di sana yang dipimpin oleh Penghulu besar KRT. Kamaludiningrat. Menjelang pemberangkatan ke Taman Makam Pahlawan di Semaki dilakukan pidato-pidato sambutan dari beberapa orang pern besar yang nadir. Setelah.pidato sambutan selesai dan pembacaan doa oleh K.H. Wahid Hasyim berakhir, jenazah kemudian diangkat keluar. Di pintu gerbang mesjid berhenti sejenak untuk dilakukan penghormatan dengan tembakan salvo dan diperdengarkan lagu-duka. Kemudian jenazah dimasukkan lagi ke dalam mobil. Lewat jam 15.00 iring-iringan jenazah berangkat menuju Semaki dengan didahului oleh genderang polisi yang bertutupkan kain hitam. Dibelakangnya menyusul musik RRI yang memperdengarkan lagu-lagu berkabung yang diikuti oleh barisan-barisan Angkatan Perang bersenjata lengkap dengan didahului sebuah panji. Kemudian menyusul barisan Tentara Pelajar, Batalyon 151, Barisan Polisi, sedangkan di belakangnya berjalan perwira-perwira dari Akademi Militer, masing-masing dengan membawa karangan bunga. Selain dari pada itu nampak pula M.P. Belanda dengan membawa karangan bunga. Baru kemudian menyusul mobil jenazah yang diapit kanan kirinya oleh pasukan. Di belakang mobil jenazah tampak berjalan kaki Acting Presiden R.I. Mr. Assaat, Menteri Pertahanan R.l.S. Hamengku Buwono IX, Perdana Menteri R.I. Dr. Halim, Menteri-menteri R.l.S. Dr. Leimena, Mononutu, wakil UNCI dan juga Jenderal Mollinger wakil Pemerintah dan Tentara Belanda. Barisan diakhiri oleh deretan manusia dan mobil-mobil yang panjangnya kurang lebih empat kilometer. Sepanjang jalan dari alun-alun sampai ke "Taman Baha-gia" Semaki ribuan orang berjejal-jejal untuk turut menghormati dan melepas jenazah yang akan lewat itu. Di 'Taman Bahagia" ternyata telah berkumpul pula beribu-ribu manusia untuk menyambut kedatangan jenazah. Antara lain tampak Ki Hadjar Dewantoro, para anggota Komite Nasional Pusat, sedang dari fihak militer telah siap Letnan Kolonel Suharto pimpinan upacara pemakaman, serta pembesar-pembesar dari Kepolisian Negara. Selain dari pada itu tampak pula wakil-wakil dari India, Tiongkok serta wakil dari Komisariaat Tinggi Belanda di Indonesia.

Kol. Soeharto pimpin pemakaman

Menjelang waktu asyhar jenazah yang diiringi para pembesar sipil dan militer beserta beribu-ribu rakyat yang seperti iringan semut tiba di Makam Pahlawan, Semaki - Yogya. Dengan suatu upacara negara di bawah pimpinan Let. Kol. Soeharto kemudian jenazah Pak Dirman dipersiapkan untuk dikebumikan.

Barisan salvo mengambil tempat di kiri kanan lobang. Para perwira Akademi Militer dengan karangan bunga di masing-masing tangan, berada di sebelah utara, sedang keluarga almarhum mengambil tempat di sebelah selatan lobang. Di sekelilingnya terdapat para pembesar sipil, militer, kepolisian, wakil-wakil UNCI, India, Tiongkok dan Belanda. Upacara dimulai pada jam 15.45. Peti jenazah yang ditutup dengan kain bendera Merah Putih dan dilingkari karangan bunga dengan perlahan-lahan dan sangat hati-hati dimasukkan keliang kubur. Setelah dilepaskan tembakan salvo penghormatan, barisan musik memperdengarkan lagu berkabung. Dalam suasana tenang dan penuh khidmad ini, telah dimakamkanlah seorang pahlawan bangsa. Angin petang menghembus keras membawa awan berat ke atas Ibu kota Republik Indonesia, seolah-olah turut ber-duka cita atas wafatnya seorang Jenderal Indonesia.

Penimbunan pertama dilakukan oleh Ibu Sudirman yang dipapah oleh sanak keluarganya di sebelah kiri dan kanannya. Kemudian berturut-turut penimbunan dilakukan oleh Acting Presiden R.I. Mr Asaat, Sri Sultan, Jenderal Mayor Suhardjo, Kolonel Gatot Subroto, Kolonel Paku Alam, Suryadarma, para Menteri dan wakil-wakil serta pembesar-pembesar lainnya. Penimbunan terakhir dilakukan oleh para per­wira di bawah pimpinan Letnan Kolonel Soeharto. Selesai dengan upacara itu, maka Sri Sultan, selaku Menteri Pertahanan R.I.S., memberi penghormatan terakhir, untuk kemudian dengan mata merah berair, meletak-kan karangan bunga, yang kemudian diikuti oleh para pembesar lainnya. Selanjutnya Kolonel Gatot Subroto atas nama keluarga dan Jenderal Mayor Suhardjo Hardowardoyo atas nama seluruh Angkatan Perang menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para hadirin sekalian, yang telah memerlukan untuk turut menyampaikan penghormatan terakhir kepada almarhum serta turut menghantar ke "Taman Bahagia" sampai dikebumikannya. Sejenak kemudian hujan turun dengan sangat lebat mengiringi siraman air mata para keluarga, segenap prajurit dan rakyat di pusara Pak Dirman.

(Disarikan dari buku Kisah Perang Kemerdekaan. Pak Dirman Menuju Sobo oleh Roto Soewarno)

------------ --------- --------- --------- ----

Jauh di Amerika Serikat pada awal Februari 1950 wartawan Rosihan Anwar yang baru saja meliput Konperensi Meja Bundar dan Penyerahan Kedaulatan kepada RIS di Belanda, dan kini sedang menimba ilmu Dramaturgi, cukup kaget membaca di surat khabar bahwa telah meninggal dunia Jenderal Soedirman. Baginya hal ini penting, karena bukankah pada tanggal 7-8 Juli 1949 baru saja bertemu Pak Dirman di desa Wonosari ? Siapa sangka Panglima Besar berusia begitu pendek hanya 35 tahun. Ada sebuah surat yang ditulis oleh Kolonel Gatot Soebroto dalam rangka membujuk Pak Dirman agar mau kembali dari medan gerilya ke Ibu Kota RI Yogyakarta. Isi surat antara lain :

….”Tidak asing lagi bagi saya, tentu saya juga mempunyai pendirian begitu. Semua-semuanya Tuhan yang menentukan. Tetapi sebagai manusia diharuskan ikhtiar. Begitu dengan keadaan adikku, karena kesehatannya terganggu harus ikhtiar, mengaso sungguh-sungguh jangan menggalih apa-apa. Adik sudah terlalu keras bekerja dengan mengabaikan kesehatan sendiri. Laat alles waaien. Ini bukan supaya jangan mati konyol, tetapi supaya cita-cita adik tercapai. Apalagi kehadliran adik di Yogya sangatlah diper-lukan. Bukan oleh mereka saja tetapi oleh kita semua seluruh bangsa. Meskipun buah-buahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira dan meng-ucapkan banyak terima kasih pada Yang Maha Kuasa. Ini kali saya selaku saudara tua dari adik minta ditaati ".

18 February 2010


Patung dada Pahlawan Nasional Dr Abdulrachman Saleh yang dikenal sebagai Pak Karbol yang terletak dihalaman depan Fakultas Kedokteran UI Salemba 6 Jakarta, kini RAIB ENTAH KEMANA. Hal ini disampaikan oleh ketua ILUNI FKUI Dr Dodi Partomihardjo pada Sabtu sore tanggal 13 Februari 2010. Patung diketahui sudah hilang kemungkinan sejak pagi. Padahal patung ini baru saja pada tanggal 4 September 2006 yang lalu diresmikan berdirinya oleh Wapres Jusuf Kalla. Selain sebagai pendiri AURI, Pak karbol juga pendiri RRI dan guru besar Sekolah Tinggi Kedokteran yang kemudian menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Pencurinya bukan saja melecehkan seorang Pahlawan Nasional, tapi kemunkinan punya tujuan mencari keuntungan seperlunya dengan maksud melebur kembali patung perunggu tersebut. Yang paling parah rupanya si pencuri buta sejarah tidak tahu siapa tokoh Dr Abdulrachman itu. Sungguh sangat memprihatinkan moral bangsa seperti itu. Harapan kami....kembalikanl ah patung yang kami hormati dan sayangi itu.....

Kalau sudah patung di tempat umum dicuri orang, patung mana lagi yang akan dicuri ? Kok seperti penutup lobang riol. Ada logam tak jelas pemiliknya, sikat saja. Lumayan buat makan.


Jakarta masih menyimpan tempat-tempat lain yang memiliki nilai sosio-historis yang sangat tinggi dan menjadi trend masyarakat di zamannya. Terutama yang ditujukan sebagai fasilitas umum. Salah satu yang berbeda dengan masa sekarang adalah gedung pertunjukan film (teater/bioskop) , baik yang masih berdiri maupun yang sudah lenyap dimakan moderenitas dan prilaku masyarakat yang anti terhadap zaman sebelumnya.

Awal abad ke-20 bioskop mulai dikenal oleh penduduk Batavia. Tercatat, sebagai pengusaha bioskop pertama di Batavia adalah seorang Belanda bernama Talbot. Ia mendisain gedung bioskopnya menyerupai bangsal berdinding gedek dan beratap kaleng (seng) di Lapangan Gambir (Monas). Setelah pertunjukan selesai, bioskop itu kemudian dibawa keliling kampung. Usaha ini kemudian diikuti oleh Schwarz, seorang Belanda yang tinggal di dekat Kebon Jahe, Tanah Abang. Bioskop Schwarz berakhir tragis, bioskopnya terbakar ketika menempati sebuah gedung besar di Pasar Baru. Namun, berikutnya muncul bioskop de Callone di Deca Park (sekitar mesjid Istiqlal). Bioskop de Callone mula-mula berupa bioskop terbuka di lapangan yang disebut misbar gerimis bubar. De Callone kemudian menempati gedung di sekitar Pintu Air dengan nama berbeda, Capitol. Beberapa tahun kemudian, pengusaha Cina mendirikan bioskop Elite. Namun, bioskop itu tidak lama sebelum akhirnya dijual kepada Universal Film Co. tanpa diketahui sabab-musababnya.

Film-film yang trend dan sangat disukai kala itu adalah Fantomas, Zigomar, Tom Mix, Edi Polo, dan film-film lucu yang dibintangi oleh Charlie Chaplin, Max Linder, Arsene Lupin, dll. Film-film tersebut adalah film bisu/gagu (tak bersuara) yang diramaikan oleh orkes musik. Teknologi dulu memang belum seperti sekarang ini. Bagi anda penyuka film action, seperti perang di angkasa, perkelahian atau pemboman, tentu saja film bisu sangat tidak menyenangkan. Nah, untuk mengisi kekosongan suara, maka dibuatlah orkes musik. Misalnya, jika adegan film action, maka musik menjadi keras dengan tempo cepat. Jika film beradegan sendu, musik pun menyesuaikan, begitu pula jika adegan romantis, musik malah bisa lebih menenggelamkan hati dan perasaan penontonnya. Terkadang, musik dengan film tidak singkron. Semua itu tergantung trampil atau tidaknya gesekan tangan pemain musik orkes, terutama pemain biolanya. Salah seorang yang trampil bermain biola yaitu bernama Amat. Saking cekatannya, Bang Amat bisa menggesek biola tidak lagi dipundaknya, tapi di dada kirinya. Jari-jari tangannya pun sangat lihai, matanya tidak berkedip dan serius melihat adegan demi adegan yang ada di layar. Pemain biola yang berkacamata dan berkulit coklat kehitaman itu hampir berusia 50 tahun. Karena ia pernah show hampir di semua bioskop yang ada di Batavia, maka Bang Amat sangat terkenal dikalangan masyarakat penyuka bioskop.

Bagi kebanyakan kakek dan nenek kita yang lahir zaman itu (sekitar tahun dua puluhan) atau zaman dimana Jakarta ketika itu masih bernama Batavia (Betawi di mulut rakyat), bioskop sekarang sangatlah jauh berbeda. Di bagian utara kota atau dikenal dengan nama Kota (orang Belanda menyebutnya Benedenstad) hanya ada dua bioskop: Gloria Bioscoop di Pancoran dan Cinema Orion di Glodok. Sedangkan di bagian selatan kota (orang Belanda menyebutnya Bovenstad atau Weltevreden) ada Cinema Palace di Krekot, Globe Bioscoop di Pasar Baru, Deca Park di Gambir, dan Dierentuin di Cikini (di kompleks TIM sekarang).

Pada saat penyerahan Hindia Belanda kepada Jepang tahun 1942, bioskop yang ada di Jakarta setidaknya terdapat lebih dari 15-an bioskop, antara lain: Rex di Kramat Bunder; Cinema di Krekot; Astoria di Pintu Air; Centraal di Jatinegara; dua bioskop Rialto masing Senen dan Tanah Abang; Thalia dan Olimo di Hayam Wuruk; Alhambra di Sawah Besar. Bioskop lain kemudian berkembang, ada Bioskop Widjaja di Pasar Ikan dan Rivoli di Kramat yang khusus memutar film-film India, ada Mega(h)ria (Metropole) di Cikini yang trend di tahun 50-an sebagai bioskop kelas atas di Jakarta. Bioskop lain adalah Oost Java terletak di pojok jalan Merdeka Utara jalan Veteran III. Di gedung inilah dalam Kongres Pemuda II lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan oleh WR. Supratman. Sekarang Oost Java sudah tidak ada lagi. Begitu pula Rembrant di Pintu Air, bioskop itu kini tinggallah kenangan.

Sebelum tahun 50-an, Capitol-lah bioskop yang paling mahal di Batavia. Bioskop ini selain dikhususkan bagi orang Belanda, sebagai perkecualian adalah para bupati dan pejabat Volksraad (anggota dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda), tarifnya cukup mahal untuk zaman itu, yaitu satu setengah gulden.

Penonton bioskop di Bovenstad pada umumnya berasal dari masyarakat atas, yaitu para ambtenaar (pejabat pemerintahan) , para tuan toko, para pemimpin perusahaan besar Belanda dan pegawai-pegawainya, serta orang-orang dari golongan berduit. Sedangkan penonton bioskop di daerah Benedenstad umumnya dari golongan menengah ke bawah. Harga-harga karcisnya pun di bioskop bagian selatan kota lebih tinggi ketimbang di utara kota.

Nonton bioskop di Batavia kala itu menjadi gengsi tersendiri. Hampir tiap malam jadi perhatian banyak orang, terutama kalangan pemuda. Terang saja karena era televisi belum ada. Tontonan bioskop menjadi primadona. Terlebih lagi promosi film biasanya diarak keliling kota menggunakan delman atau sado yang dipajangi poster-poster film yang akan diputar malam itu serta nama bioskop bersangkutan. Usaha ini tentunya sangat menarik perhatian bagi siapa saja yang berada di pinggir jalan. Biasanya genderang / tambur dipukul-pukul untuk membuat suasana jadi bising. Pak kusir pun tak mau ketinggalan membunyikan terus menerus bel/klakson delmannya. Poster-poster atau brosur disebarkan ke pinggir jalan di mana orang-orang berkumpul. Kesempatan ini biasanya dimanfaatkan oleh anak-anak untuk mengambil poster-poster itu sambil berlarian. Maklum ketika itu jalanan kota masih sepi dari lalu lintas kendaraan bermotor tidak seperti jaman sekarang.

Nonton bioskop tempo dulu sangatlah tidak nyaman seperti jaman sekarang. Terutama jika nonton bioskop di daerah Kota. Penonton wanita berpakain cantik dan menor, sedangkan pria biasanya berpakaian serba santai, alias seenaknya sendiri. Ada yang memakai setelan jas komplit (jas tutup menurut mode jaman itu dan pantalon), ada juga yang menggunakan jas dengan bawahan celana komprang (sejenis celana piyama), dan ada yang menggunakan setelan piyama lengkap. Mungkin golongan terakhir ini tidak tahu kalau piyama hanya digunakan untuk tidur. Ini jelas diluar kebiasaan penonton bioskop masa kini.

Ada yang unik jika kita menonton bioskop tempo dulu, yaitu tidak ada aturan untuk 13/17 tahun ke atas. Akibatnya banyak anak-anak kecil yang ikut nonton bersama orang tuanya. Namun, ada peraturan yang berbeda dengan sekarang. Di bioskop tempo dulu tempat duduk antara laki-laki dan perempuan dipisah. Biasanya banyak pasangan anak muda atau suami istri yang melanggarnya. Ini mungkin saja karena kasihan jika pasangan perempuannya harus berjubelan keluar saat film selesai. Pemandangan tambah semrawut, karena para pedagang asongan ikut masuk ke dalam bioskop. Sambil berteriak “Kwaci..., Palamanis... , Kacang Arab... seakan-akan hendak menyaingi lagu-lagu dari musik orkes, percapakan calon-calon penonton dan hiruk pikuk bisingnya kendaraan yang lalu lalang di depan bioskop. Bayangkan, nonton bioskop jaman dulu seperti naik kereta api listrik jurusan Bogor Kota dipagi saat orang berangkat kerja atau sore hari ketika orang pulang kerja, panas berkeringat, penuh sesak, dan berjubelan dengan para pedagang. Sehingga kejahatan sangatlah rawan terjadi dalam kondisi seperti ini.***

Mailing list: http://groups. yahoo.com/ group/komunitash istoria

14 February 2010

RUMUS PRESENT PERFECT DAN PENGGUNAANNYA.

Lazimnya kalimat dalam pola present perfect tense diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ungkapan telah atau sudah; dan untuk kalimat negative diterjemahkan dengan ungkapan belum.

POLA:

· Positive

- S + have/has + V3 + O

Has untuk subjek ketiga tunggal, dan have untuk subjek selain ketiga tunggal.

· Negative

- S + have/has + Not + V3 + O

· Interrogative

- Have/has + S + V3 + O?

Manakala menggunakan kata Tanya / question word (5W, 1H), kata Tanya diletakan sebelum have/has.

PENGGUNAAN:

1. Untuk menyatakan suatu kegiatan yang telah rampung / selesai dilakukan sekarang / pada saat berbicara.

- We have already written our reports.

(We are not writing them any more now)

- Ratu has already read the entire book.

(She is not reading it anymore)

2. Manakala menggunakan intransitive verb (kata kerja tak ber objek), present perfect menyatakan suau peristiwa yang dimulai pada waktu lampau dan hingga kini masih berlanjut.

- I have lived here since I was born.

- I have been a teacher since 1989.

- She has slept for 10 hours.

Dalam situasi ini present perfect dapat saling mengganti dengan present perfect continuous. Untuk membedakan keduanya lihat pembahasan present perfect continuous di bawah.

3. Untuk menyatakan pengalaman masa lalu yang berelevansi dengan masa kini – buktinya masih terasa sekarang.

- I have already seen the movie.

- She has got her breakfast.

- I have ever been to Bandung.

4. Untuk menyatakan aktivitas yang berlangsung dalam rentang waktu lampau dan terselesaikan dalam saat pembicaraan.

- The value of the Setiawan’s house has doubled in the last four years.

5. Dapat bertindak sebagai anak kalimat sebagai keterangan waktu dan sebagai prakondisi dalam pola conditional type 1.

- She want be satisfied until she has finished another chapter.

- If you have done your homework, you can watch TV.

- If she has already been here, please contact me.